Di Balik Ucapan Maaf Idulfitri

Alhamdulillah… kita sampai di hari ini. Hari yang kita tunggu-tunggu. Hari yang disebut sebagai hari kemenangan.

Namun izinkan saya bertanya…

Benarkah kita semua benar-benar menang?

Ataukah… ada hati yang masih kalah oleh luka yang belum sembuh?

Saudaraku,

Di hari Idulfitri, lisan kita begitu ringan mengucap:
“mohon maaf lahir dan batin…”

Pesan-pesan bertebaran.
Ucapan bersahutan.
Senyum saling dipaksakan.

Tapi… bagaimana dengan hati kita?

Apakah benar sudah bersih?
Ataukah masih tersimpan luka lama yang diam-diam kita peluk erat?

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Tidak semua luka terlihat.
Tidak semua tangis terdengar.
Ada yang tersenyum di hari raya… tapi hatinya masih retak.

Ada yang mengucapkan maaf…
tapi di dalam dadanya masih ada perih yang belum sempat sembuh.

Dan itu… manusiawi.

Karena memaafkan… bukan perkara kata.
Ia adalah perjuangan.
Ia adalah pertempuran sunyi di dalam dada.

Kadang kita ingin memaafkan… tapi ingatan itu datang lagi.
Kadang kita mencoba ikhlas… tapi air mata justru jatuh diam-diam.

Lalu… apakah kita salah?

Tidak.

Yang salah adalah ketika kita berhenti mencoba.

Saudaraku,

Idulfitri bukan panggung sandiwara.
Bukan sekadar tradisi mengucap maaf tanpa rasa.

Idulfitri adalah momen paling jujur dalam hidup kita—
saat kita berdiri di hadapan Allah,
membawa hati yang mungkin belum sempurna…
tapi ingin pulang.

Pulang… dari dendam.
Pulang… dari kebencian.
Pulang… dari luka yang selama ini kita simpan sendirian.

Kalau hari ini kita belum mampu berkata, “aku memaafkan”…
maka katakanlah dalam doa:

“Ya Allah… aku lelah dengan luka ini.
Aku ingin sembuh… meski belum bisa sekarang.
Tolong ajari aku memaafkan…”

Karena sesungguhnya, Allah tidak menilai seberapa cepat kita memaafkan—
tetapi seberapa tulus kita ingin memperbaiki hati.

Dan mungkin…

Justru di hari Idulfitri ini,
yang perlu kita maafkan bukan hanya orang lain—

tapi juga diri kita sendiri.

Saudaraku,

Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” itu indah…
tapi jangan berhenti di lisan.

Biarkan ia turun ke hati.
Meski perlahan.
Meski tertatih.

Karena kemenangan sejati…
bukan pada baju baru,
bukan pada hidangan di meja—

tetapi pada hati yang akhirnya… mau belajar memaafkan.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Insya Allah kita pulang…
bukan sebagai orang yang sempurna,
tetapi sebagai jiwa yang sedang belajar ikhlas.

Tinggalkan Balasan