Pendiri Majelis GAZA, Diki Candra Soroti Fenomena Manusia Akhir Zaman Yang Tak Lagi Takut Kepada Allah

SUBANG, Nusantara Bicara — Dilansir dari berita12.com Pendiri Majelis GAZA, Diki Candra mengungkapkan bahwa umat manusia di peradaban akhir zaman, aktif namun terkunci dalam perangkap, maksudnya adalah umat manusia saat ini bergerak secara fisik  dan sosial tapi tidak berjalan menuju kebenaran, sehingga membuatnya jauh dari maha pencipta, Selasa (17/2/2026).

Kang Diki sapaan akrabnya menjelaskan, umat manusia tidak keluar dari lingkaran sistem yang menahan mereka di tempat yang sama. Ini bukan fitnah kemalasan, melainkan fitnah kesibukan tanpa hidayah.

“Ini adalah fitnah stagnasi akhir zaman, yaitu keadaan di mana manusia saat ini bergerak secara fisik  dan sosial tapi tidak berjalan menuju kebenaran, sehingga membuatnya jauh dari Allah SWT dan merasa tetap di tempat yang sama,” ujar Kang Diki.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, semua orang bergerak (Kepala, Tangan, Kaki) yang melambangkan aktivitas total. Yakni berpikir, bekerja, berusaha, berbicara, dan bergerak secara lahiriah. Namun gerakan ini tidak sinkron dengan tujuan akhir, yaitu mencari ridha Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut orang-orang yang amalnya sia-sia meski tampak bekerja keras: “Dan Kami hadapkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).

“Ini menandakan bahwa aktivitas tersebut bukan hiburan dan bukan kesehatan, melainkan rutinitas serius yang dipaksakan oleh sistem hidup: ekonomi, sosial, teknologi, dan tekanan zaman. Maknanya, manusia tidak sedang bermain, tetapi juga tidak sedang benar-benar hidup,” jelasnya.

Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa menunjukkan, bahwa fitnah ini bersifat global dan lintas generasi. Tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak sejak dini sudah masuk dalam pola hidup yang sama, kehilangan fitrah dan arah.

Kang Diki mengatakan fenomena ini terjadi di Jalan yang merupakan ruang publik dan sistem sosial, lalu halaman sebagai ruang pribadi dan keluarga. Kemudian Taman jadi ruang rekreasi dan ketenangan.

“Artinya, tidak ada satu pun ruang yang bebas dari stagnasi ini,” katanya.

Beliau juga menambahkan bahwa hal ini adalah simbol mati rasa (mati qalbu). Manusia hidup tanpa rasa takut kepada Allah, tanpa harap kepada akhirat, dan tanpa kesedihan atas dosa.

“Hal inilah yang membuat manusia tidak hijrah, tidak berubah, tidak naik derajat iman, meskipun waktu terus berjalan. Secara ruhani, ini adalah penjara sistemik, bukan penjara fisik,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan