Jakarta, Nusantara Bicara — TNI tiga matra dan perwakilan dari Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI melaksanakan focus group discussion (FGD) trimatra di Ruang Serbaguna IG. Dewanto Detasemen Markas Besar TNI AU, Jakarta, Senin (2/3).
Forum tersebut dibuka Koordinator Staf Ahli (Koorsahli) Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsda TNI Andi Wijaya dengan mengangkat tema “Reformasi Peperangan Gerilya dalam Menghadapi Perang Berlarut di Era Modern”.
Dalam sambutannya, Andi Wijaya menyampaikan perlunya forum lintas matra yang melibatkan personel TNI untuk memperkuat landasan pemikiran strategis.
“Melalui FGD trimatra ini, saya berharap terjadi satu kesepahaman dan persepsi dalam perumusan konsep perang gerilya udara menjadi satu kerangka komando terpadu bersama gerilya darat dan gerilya laut,” kata Andi dalam siaran pers Dinas Penerangan TNI AU, Selasa (3/3).
FGD menghadirkan sejumlah narasumber dari jajaran TNI dan Kemhan RI. Dari Kemhan, Direktur Kebijakan Strategi Pertahanan Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang memaparkan strategi pertahanan defensif aktif dan gerilya trimatra.
Sementara itu, Asisten Strategis Panglima TNI Marsda Budhi Achmadi membahas perang berlarut, gerilya, dan lawan gerilya dalam perspektif TNI. Direktur Latihan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AD (Kodiklatad) Brigjen Elkines Villando Dewangga mengulas reformulasi perang gerilya.
Dari matra laut, Asisten Operasi Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksda Yayan Sofiyan memaparkan konsep bertempur matra laut dengan pendekatan multidomain operations atau operasi multidomain.
Adapun Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Komando Operasi TNI AU (Koopsau) Marsma Ridha Hermawan menjelaskan perang gerilya udara dalam kerangka sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sebelumnya, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa konsep defensif aktif masih menjadi arah dan kebijakan nasional di bidang pertahanan. Hal itu disampaikan Sjafrie dalam rapat pimpinan Kementerian Pertahanan-TNI di gedung Dewan Pertahanan Nasional (DPN), kompleks Kemhan RI, Jakarta Pusat, Senin (19/1).
“Kita hanya melaksanakan pertahanan defensif aktif semata-mata untuk menjaga dan mengawal eksistensi dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Sjafrie.
Sjafrie juga meminta jajaran Kemhan dan TNI tidak boleh membiarkan ancaman datang, baik itu secara fisik maupun psikologis.
“Oleh karena itu, kita sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan negara juga harus siap untuk melakukan berbagai langkah-langkah (preventif dan) preemtif, agar kita siap untuk perang berlarut di dalam mempertahankan kemerdekaan dan NKRI,” kata Sjafrie.(Agus)