Oleh: Diki Candra Purnama*)
Para ghuraba adalah penerus epistemologi ummiyyah (Cara mengetahui pengetahuan yang berasal langsung dari Allah ﷻ, bukan hasil proses belajar manusia, tulisan, atau logika rasional semata), yang ditambah oleh Allah ﷻ ilmu wahbiy di tengah dominasi ilmu rasionalistik modern.
Ilmu Wahbiy adalah ilmu yang diberikan (dianugerahkan) langsung oleh Allah ﷻ ke dalam hati seorang hamba-Nya tanpa proses belajar (kasbiy), misalnya melalui mimpi ( mubasyirah).
Konsep ummiyyah seringkali dipahami secara sempit sebagai “tidak bisa membaca dan menulis.” Namun dalam dimensi epistemologi Islam, terutama ketika dikaitkan dengan para nabi, wali, dan pemimpin ruhani akhir zaman, ummiyyah justru bermakna kesucian kognitif: kondisi di mana seseorang tidak terkontaminasi oleh sistem pengetahuan duniawi, rasionalitas filosofis, atau skolastik yang membatasi wahyu dan ilham ilahi.
Rasulullah ﷺ disebut an-nabiyy al-ummiyy bukan karena kekurangan pengetahuan, melainkan karena pengetahuan beliau murni berasal dari Allah tanpa perantara manusia.
Hal ini menjadi model epistemologi unik yang akan kembali hidup di akhir zaman — yakni epistemologi ummiyyah yang menjadi dasar munculnya al-Mahdi dan Ashabul Kahfi, para ghuraba yang membawa kembali cahaya ilmu ladunni di tengah runtuhnya otoritas ilmu rasional dan sekuler.
Ummiyyah sebagai Paradigma Ilmu Wahbiy menurut Al Qur’an Allah Ta‘ālā berfirman: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya, dan tidak pula menulisnya dengan tangan kananmu; jika demikian, pastilah orang yang mengingkari itu meragukan (kerasulanmu).” – (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 48).
Ayat ini menegaskan bahwa ummiyyah Rasulullah ﷺ adalah bukti otentisitas wahyu, bukan kekurangan. Karena jika beliau sebelumnya sudah terlatih dalam ilmu rasional (rajin baca dan pandai menulis), maka kaum kafir Quraisy akan menuduh wahyu sebagai hasil olah pikir atau bacaan manusia.
Lebih lanjut kita kajian dulu kaitan Ummiyyah dan Ilmu Ladunni. Istilah ilmu ladunni berasal dari firman Allah: “Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi [18]: 65).
Ayat ini menggambarkan Nabi Khidhir ‘alaihis-salam, seorang hamba saleh yang memperoleh pengetahuan langsung dari Allah ﷻ, tanpa perantara manusia. Ini merupakan bentuk ilmu wahbiy (ilmu yang diwahyukan), bukan kasbiy (ilmu hasil usaha).
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Sesungguhnya di antara umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang diberi ilham. Jika di antara umatku ada, maka ‘Umar-lah orangnya.” (HR. al-Bukhari no. 3689).
Hadits ini menegaskan eksistensi ilham (pengetahuan langsung dari Allah tanpa proses rasional). Dengan demikian, ilmu ummiyyah adalah fondasi ilmu ilhami dan ladunni yang diwariskan kepada para pewaris ruhani Rasulullah ﷺ di akhir zaman.
Banyak riwayat menggambarkan bahwa al-Mahdi bukan seorang ahli ilmu formal sebelum kemunculannya. Dalam al-Qaul al-Mukhtashar karya Ibnu Hajar al- Haitami disebutkan:
“Dia akan diperbaiki oleh Allah dalam satu malam.”— (HR. Ibn Mājah no. 4085).
Ungkapan “diperbaiki dalam satu malam” menunjukkan proses transformasi epistemologis ilahiah—bahwa pengetahuan dan hikmah Mahdi bukan hasil belajar bertahun-tahun, melainkan wahbiy (diberikan secara langsung).
Imam as-Suyuthi menegaskan bahwa al-Mahdi adalah orang yang “tidak dikenal sebelumnya sebagai orang alim atau ahli ilmu”, namun tiba-tiba Allah ﷻ anugerahi hikmah, firasat, dan bashirah yang menakjubkan (Asy-Syu‘ur bi Zuhur al-Mahdī al-Muntazhar, hlm. 23).
Demikian pula Putra Bani Tamim, sebagaimana disebut dalam banyak atsar, adalah seorang yang dibimbing langsung oleh Allah dan oleh ruh Al-Mahdi sebelum pertemuan mereka. Ia membawa rayah al-mahdiyyah (panji-panji petunjuk) dari Timur, bukan karena belajar keilmuan dunia, tapi karena ilmu ladunniyah yang ditanamkan dalam qalbunya.
Para ulama seperti Imam al-Qurṭubi (Tadhkirah, hal. 701) menjelaskan:
“Putra Bani Tamīm bukanlah ulama kitab, tetapi pemuda saleh yang diberi bashirah (penglihatan batin) dan keberanian ilahi, hingga menjadi panglima panji-panji hitam.”
Makanya disini Tidak disebut sebagai “faqih” atau “muhaddits”. Namun Dipilih karena iman, bashirah, dan kesucian jiwanya.
Ini menandakan bahwa ummiyyah maknawiyyah — kesucian fitrah dan ilmu ladunni yang Allah ajarkan langsung.
Makna ummiyyah maknawiyyah pada Al-Mahdi dan Putra Bani Tamim berarti
Tidak dikotori oleh doktrin rasionalis dan system pengetahuan yang dianggap benar (ilmiah modern) yang memisahkan ilmu dari wahyu.
Sedagkan dia Menerima ilmu langsung dari Allah melalui ilham, ru’ya shadiqah, dan pencerahan batin yang diberikan oleh Allah kepada hati seorang hamba (futuh qalbiy).
Maka ummiyyah di sini bukan “bodoh”, tetapi lembaran hati (tabula rasa) ruhani yang suci (belum terdoktirn dengan ilmu dari belajar), tempat ilmu Allah turun secara langsung, sebagaimana hati Nabi Muhammad ﷺ menjadi wadah wahyu pertama kali.
Ashabul Kahfi digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai para pemuda yang tidak dikenal ilmunya secara duniawi, namun memiliki keteguhan iman yang luar biasa: “Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, lalu Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13)
Mereka tidak disebut sebagai fuqaha atau muhaddithin, melainkan fit’ah (pemuda) yang mendapat tambahan huda (petunjuk langsung). Artinya, epistemologi mereka sama dengan al-Mahdi — ilmu wahbiy yang datang dari Allah ﷻ karena keimanan dan keikhlasan.
Ciri-cirinya : Ilmu futuḥ qalbiy (ilham, basirah). Ketaatan tanpa kompromi pada Qur’an dan Sunnah. Ru’ya ṣadiqah (mimpi benar) dan firasat tajam. Petunjuk langsung dalam keputusan penting.
Maka istilah “al-Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin” bermakna “para pemimpin yang memperoleh hidayah langsung dari Allah ﷻ dalam kebijakan mereka.”
*/ 6 Oktober 2025