Kubu Raya, Kalbar, Nusantara Bicara – Sebuah video yang diunggah akun media sosial Rumba Barat memperlihatkan mobil angkutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertuliskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) TNI AU viral dan menjadi perbincangan warganet.
Video tersebut menyoroti penolakan distribusi makanan bergizi oleh pihak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kuala Karya, Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penolakan dilakukan setelah adanya komunikasi dan pembahasan antara pihak sekolah dan wali murid terkait sejumlah persoalan yang dinilai merugikan siswa.
Salah satu pengurus PAUD menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil bersama para orang tua murid.
“Setelah melalui komunikasi yang intens dengan pihak sekolah, akhirnya kami putuskan untuk tidak menerima makanan bergizi atau MBG yang masuk ke sekolah ini,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat beberapa alasan utama yang menjadi dasar penolakan. Salah satunya terkait jadwal pengantaran makanan yang dinilai tidak sesuai dengan waktu kegiatan belajar mengajar di PAUD.
Ia menjelaskan, murid PAUD biasanya telah pulang sekitar pukul 09.30 WIB. Namun, makanan MBG disebut kerap tiba sekitar pukul 11.00 WIB.
“Jadwalnya sering terlambat. Murid sudah pulang jam 9.30 WIB, sementara MBG datang pukul 11.00 WIB. Ini jaraknya sudah terlalu jauh,” jelasnya.
Selain keterlambatan distribusi, pihak sekolah juga menyoroti kualitas makanan yang diterima. Disebutkan bahwa dalam beberapa kesempatan, lauk ayam yang diantar ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
“Sudah tiga kali ayamnya busuk. Inilah rasa kekecewaan kami yang pada akhirnya membuat kami sepakat bersama orang tua murid untuk tidak menerima MBG,” katanya.
Ia menegaskan bahwa program makanan bergizi seharusnya mengutamakan kualitas, kebersihan, serta ketepatan waktu distribusi agar benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak.
“Seharusnya dapur MBG itu makanannya segar dan steril. Waktunya juga tepat sesuai jam istirahat murid. Tetapi yang terjadi justru jauh berbeda dari kondisi di lapangan,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara program maupun instansi terkait mengenai polemik tersebut. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi guna memperoleh klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut demi keberimbangan informasi. (Agus)