Nusantara Bicara, JAKARTA — Teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk grading tandan buah segar (TBS) kelapa sawit diperkenalkan dalam ajang Palmex Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Inovasi ini diklaim mampu menghapus perdebatan klasik antara petani dan pabrik terkait kualitas buah, sekaligus meningkatkan transparansi dan efisiensi industri sawit nasional.
Pameran teknologi dan peralatan kelapa sawit terbesar di Indonesia tersebut menghadirkan berbagai inovasi digital, salah satunya sistem AI grading TBS yang dipaparkan oleh Dr. Tony Liwang selaku Senior Advisor PT Bhuana Raya Inovasi Cemerlang (BRIC).

Dalam pemaparannya, Tony menjelaskan bahwa selama ini terdapat perbedaan penilaian kualitas buah antara kebun dan pabrik yang kerap menimbulkan konflik. Sistem manual dinilai tidak mampu memberikan hasil objektif dan transparan.
“Selama ini antara kebun dan pabrik selalu ada selisih. Yang satu bilang mentah, yang lain bilang matang. Tanpa alat yang benar, sulit ada kesepakatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, teknologi AI bekerja seperti sistem video assistant dalam olahraga yang mampu memberikan keputusan objektif berbasis data. Dengan sistem ini, seluruh proses grading dapat dilakukan secara otomatis dan terdokumentasi.
“Sekarang seperti VAR di sepak bola. Kita bisa langsung lihat datanya, tidak ada lagi perdebatan apakah buah itu matang atau tidak,” kata Tony.
Selain meningkatkan akurasi, sistem ini juga memungkinkan akses data secara terbuka. Petani, yang sebelumnya sulit memperoleh informasi kualitas buahnya, kini dapat mengetahui hasil grading secara real-time.
“Petani bisa langsung tahu hari ini berapa persen buahnya mentah atau matang. Tidak perlu menunggu dua minggu seperti sebelumnya,” jelasnya.
Dari sisi operasional, penggunaan AI juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi pabrik. Selama ini, pabrik hanya mampu melakukan grading sekitar 10–15 persen dari total buah yang masuk. Dengan teknologi ini, seluruh proses dapat dilakukan secara menyeluruh dan cepat, bahkan mencapai kapasitas puluhan ton per jam.
Tony menambahkan, digitalisasi ini juga berpotensi mempercepat sistem pembayaran kepada petani karena seluruh data sudah terintegrasi dan tersedia secara langsung.
Namun demikian, ia mengakui bahwa adopsi teknologi masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi biaya, kesiapan SDM, serta keterjangkauan bagi petani kecil.
“Teknologi ini awalnya banyak dipakai perusahaan besar. Tantangannya sekarang bagaimana membuatnya lebih murah, lebih sederhana, dan bisa diakses petani kecil,” ujarnya.
Terkait kebijakan, Tony menilai peran pemerintah masih belum optimal dalam mendorong transformasi teknologi di sektor sawit. Ia menekankan perlunya integrasi antara ketersediaan alat, bahan, dan dukungan sistem agar inovasi dapat berjalan efektif.
“Kalau hanya ada teknologi tapi tidak didukung sistem dan ekosistemnya, ya tidak akan jalan. Semua harus terintegrasi,” katanya.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, AI grading TBS dinilai berpotensi menjadi solusi atas persoalan lama dalam industri sawit Indonesia, terutama dalam menciptakan sistem yang lebih adil, transparan, dan efisien bagi seluruh pelaku, mulai dari petani hingga pabrik. (P)