ALI SYARIATI, Seorang pemikir Islam paling berbahaya di abad ke-20, ia tidak dibunuh di penjara. Ia dibunuh di luar negeri, tiga minggu setelah bebas, oleh tangan yang tak pernah diadili.
Namanya Ali Syariati. Dan sebelum mati, ia sudah berhasil mengubah cara jutaan orang memahami Islam, kekuasaan, dan arti menjadi manusia.
Ia lahir 23 November 1933 di desa kecil Mazinan, Iran, dari keluarga ulama yang sejak awal menanamkan bahwa Islam bukan sekadar ritual, melainkan cara pandang total terhadap dunia. Ia tumbuh bukan sebagai anak pesantren biasa, tapi sebagai pemuda yang lahap membaca Sartre, Fanon, sekaligus Al-Quran dalam satu tarikan napas.
Setelah menyelesaikan studi doktoral sosiologi di Paris, ia kembali ke Iran dan mulai mengajar di Universitas Masyhad. Kuliah-kuliahnya bukan pelajaran biasa, ruangan selalu penuh sesak, mahasiswa berdiri di lorong hanya demi mendengar suaranya berbicara tentang Islam yang selama ini tak pernah mereka kenal.
Bagi Syariati, tauhid bukan hanya persoalan teologis tentang keesaan Tuhan. Tauhid adalah penolakan total terhadap segala bentuk ketuhanan palsu, termasuk penguasa zalim, sistem ekonomi yang menghisap, dan struktur sosial yang merendahkan martabat manusia. Dalam logika ini, shalat dan revolusi bukan dua hal yang berlawanan. Mereka adalah satu.
Manusia yang benar-benar bertauhid tidak akan bisa diam ketika saudaranya ditindas, karena diam itu sendiri adalah bentuk syirik terhadap kekuasaan manusia.
Syariati membelah Islam menjadi dua wajah yang berhadap-hadapan. `Islam Hitam` adalah Islam yang dimanfaatkan penguasa untuk melegitimasi kekuasaan, membuat rakyat patuh, pasif, dan takut bersuara atas nama kesabaran yang dipaksakan.
Islam Merah` adalah Islam Alawi, Islam yang diajarkan Nabi dan keluarganya, Islam yang membakar semangat, membangkitkan kesadaran, dan memihak mereka yang tertindas. Bagi Syariati, memilih antara keduanya bukan soal mazhab, tapi soal di mana kamu berpihak.
Syariati menawarkan konsep yang ia sebut Rausyan Fikr, secara harfiah berarti yang tercerahkan. Tapi bukan orang yang hanya pintar, ia adalah manusia yang menggabungkan ilmu dengan tanggung jawab sosial, seperti nabi sosial yang berbicara bukan dalam bahasa akademik, melainkan dalam bahasa kaumnya.
Ilmuwan biasa menemukan fakta dan berhenti di sana. Rausyan Fikr menemukan kebenaran lalu turun ke jalan, duduk bersama rakyat, dan menggerakkan perubahan dari bawah. Itulah mengapa para penguasa selalu takut pada jenis manusia ini.
Syariati percaya pada nilai manusia, tapi bukan seperti humanisme Barat yang menghapus Tuhan dan menggantinya dengan ego. Humanismenya berakar pada Islam, di mana manusia mulia bukan karena akalnya saja, melainkan karena ia menjadi khalifah yang bertanggung jawab di muka bumi.
Manusia dalam visinya adalah makhluk bi-dimensional: di dalam dirinya ada unsur lumpur dan sekaligus ada unsur ketuhanan. Ketegangan itulah yang mendorong manusia untuk terus bergerak, memilih, dan menjadi, bukan sekadar hidup mengikuti arus.
Mei 1977, setelah berkali-kali keluar masuk penjara rezim Shah, Syariati akhirnya lolos ke Paris lalu ke London. Rencananya, ia akan melanjutkan ke Amerika Serikat untuk meneruskan perjuangan pemikirannya dari luar Iran.
Tiga minggu kemudian, 19 Juni 1977, ia ditemukan meninggal secara misterius di rumah kerabatnya di Southampton, Inggris. Tidak ada bekas kekerasan yang terbuka, tapi semua petunjuk mengarah kuat ke SAVAK, polisi rahasia rezim Shah yang terkenal tanpa batas. Ia dikebumikan di Damaskus, jauh dari tanah yang ia cintai dan perjuangkan sepanjang hidupnya.
Syariati meninggal di usia 43 tahun. Tapi gagasannya tentang tauhid sebagai pembebasan, Islam sebagai ideologi kemanusiaan, dan Rausyan Fikr sebagai tanggung jawab kaum terpelajar, masih terus diperdebatkan hingga hari ini. Karena memang tidak semua orang sepakat: apakah Islam itu soal ritual, atau soal perjuangan?
Sekarang giliranmu menjawab. Menurutmu, hari ini kita lebih banyak mempraktikkan Islam Merah atau Islam Hitam versi Syariati?(Sumber*https://t.me/Sabilulungan/36847)