Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen Diluncurkan pada Peringatan 105 Tahun Kelahiran Soeharto

Nusantara Bicara, Jakarta –- Sebuah buku yang mengangkat sisi spiritual Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto, resmi diluncurkan bertepatan dengan peringatan 105 tahun kelahirannya, Senin (8/6). Buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa karya wartawan senior Bambang Wiwoho diperkenalkan kepada publik dalam acara Peluncuran Buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional yang berlangsung di Gedung IAS TH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat.


Kegiatan ini merupakan kolaborasi Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB), Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (Universitas Trilogi), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, serta Penerbit Buku Kompas. Selain peluncuran buku, acara juga menjadi ruang dialog publik untuk membahas berbagai isu ketahanan nasional dalam perspektif sejarah, budaya, dan kepemimpinan bangsa.

Buku ini menawarkan sudut pandang berbeda dalam memahami sosok Soeharto. Selama ini, Soeharto lebih banyak dibahas dari aspek politik, ekonomi, dan kekuasaan. Melalui karya ini, Bambang Wiwoho mengajak pembaca menelusuri dimensi spiritual yang diyakini turut membentuk karakter kepemimpinan, keteguhan sikap, dan cara pandang Soeharto dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Sebagai wartawan senior yang mengikuti dinamika politik nasional sejak awal 1970-an dan kini menjabat Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat, Bambang Wiwoho menyusun buku ini berdasarkan penelusuran sejarah, wawancara, serta berbagai sumber dokumentasi. Pembaca diajak memahami bagaimana laku tirakat, tradisi kebatinan Jawa, relasi dengan tokoh-tokoh spiritual, hingga kepercayaan terhadap berbagai pertanda menjadi bagian dari perjalanan hidup Soeharto.


Buku ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi maupun mengagungkan sosok Soeharto. Sebaliknya, penulis menghadirkan pendekatan yang reflektif dan humanis dengan menunjukkan bahwa di balik strategi politik dan kekuasaan, seorang pemimpin juga memiliki ruang batin yang memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan.


Pembahasan tidak berhenti pada figur Soeharto. Sesuai judulnya, buku ini juga mengembangkan pendekatan pembacaan kondisi Indonesia melalui kerangka SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dipadukan dengan perspektif budaya Jawa. Penulis mengulas berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi Indonesia, sekaligus menelaah gaya kepemimpinan para presiden Indonesia mulai dari Soekarno hingga Prabowo Subianto.


Pada bagian akhir, buku ini menghadirkan refleksi mengenai falsafah kepemimpinan Jawa dan nilai-nilai budaya yang selama berabad-abad membentuk tradisi politik Nusantara. Perspektif tersebut ditawarkan sebagai bahan renungan dalam menghadapi tantangan kebangsaan masa kini.


Nilai tambah buku ini juga terletak pada kata pengantar yang ditulis oleh Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id, Paulus Tri Agung Kristanto, berjudul Mistik Kejawen dalam Negara Pascakolonialisme Jawa. Tulisan tersebut memberikan konteks akademik dan kultural mengenai posisi tradisi kejawen dalam perjalanan negara modern Indonesia.


Diterbitkan oleh Kompas, buku setebal 160 halaman berukuran 15 x 23 sentimeter ini memadukan pendekatan jurnalistik, sejarah, dan refleksi budaya. Buku ini ditujukan bagi pembaca yang ingin memahami perjalanan Republik Indonesia dari sudut pandang yang lebih mendalam, yakni persinggungan antara kekuasaan, kebudayaan, dan spiritualitas.


Rangkaian peluncuran diawali dengan konferensi pers, dilanjutkan seremoni peluncuran buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Bambang Wiwoho, Dr. Palupi Lindiasari Samputra, dan Dr. Lita Sari Barus, dengan moderator Dr. Puspitasari. Acara juga dihadiri perwakilan keluarga Soeharto, pimpinan lembaga penyelenggara, akademisi Universitas Indonesia, serta sejumlah tokoh nasional.


Melalui peluncuran buku ini, penyelenggara berharap tercipta ruang refleksi bersama mengenai hubungan antara kepemimpinan, kebudayaan, spiritualitas, dan masa depan Indonesia. Di tengah perubahan sosial, politik, dan global yang terus berlangsung, pengalaman sejarah bangsa diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat ketahanan nasional dan memperkaya khazanah pemikiran kebangsaan Indonesia. (Sugeng)

Tinggalkan Balasan