JAKARTA Nusantarabicara.com -– Industri taman rekreasi dan hiburan keluarga di Indonesia dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan yang sangat besar. Potensi tersebut menjadi alasan utama penyelenggaraan The 6th FUN ASIA EXPO Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Hall D1 dan D2, Kemayoran, Jakarta, pada 5–6 Agustus 2026.
Mengusung tema “Southeast Asia’s Largest Attraction, Theme Park & Water Park”, pameran business-to-business (B2B) terbesar di Asia Tenggara ini menghadirkan lebih dari 150 peserta dari 12 negara, yakni Indonesia, China, Kanada, Italia, Malaysia, Singapura, Meksiko, Australia, Turki, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya yang bergerak di bidang perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian taman rekreasi berskala internasional.

Pameran diselenggarakan oleh PT Fun International bekerja sama dengan Grandeur Exhibition Group, serta didukung PT Funworld Prima dan Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI).
Presiden Direktur PT Funworld Prima sekaligus Ketua Penyelenggara FUN ASIA EXPO, Rachmat Setiyono, mengatakan penyelenggaraan FUN ASIA EXPO berawal pada 1997 dengan tujuan memperluas pasar industri rekreasi nasional yang saat itu masih relatif kecil.
“Tujuan utamanya memperluas industri. Waktu itu industrinya masih kecil, sehingga kami ingin pasar ini berkembang agar semua pelaku usaha di bidang rekreasi bisa tumbuh bersama, bukan saling berebut pasar yang terbatas,” kata Rachmat.

Menurutnya, pameran ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Namun pelaksanaannya sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1998 dan pandemi COVID-19 sebelum akhirnya kembali digelar secara rutin.
Rachmat menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri rekreasi karena didukung pertumbuhan sektor pariwisata di berbagai daerah.
“Perkembangan pariwisata di daerah sekarang luar biasa. Memang sebagian besar masih wisata alam, tetapi pertumbuhannya sangat pesat. Masyarakat Indonesia juga kini menjadikan pariwisata sebagai salah satu kebutuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasar utama industri rekreasi nasional saat ini justru berasal dari wisatawan nusantara (wisnus), bukan semata-mata wisatawan mancanegara.
“Yang paling besar justru peminat dari wisatawan domestik. Ini menjadi peluang yang sangat besar bagi industri rekreasi di Indonesia,” katanya.
Rachmat berharap ke depan semakin banyak pelaku usaha nasional yang memproduksi wahana dan teknologi rekreasi di dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi.
“Harapan kami semakin banyak pengusaha Indonesia yang membuat produk untuk industri ini, sehingga kita tidak selalu bergantung pada impor,” tuturnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, FUN ASIA EXPO menampilkan lebih dari 1.000 produk dan teknologi terbaru, mulai dari wahana permainan, mesin hiburan modern, sistem ticketing digital, konsep permainan interaktif, hingga solusi pembangunan water park.
Selain pameran, acara juga menghadirkan forum industri, seminar mengenai perencanaan, inovasi wahana, pengembangan sumber daya manusia, aspek keselamatan dan keamanan, business matching antara investor, operator taman rekreasi, pemerintah daerah, serta supplier global, hingga paviliun internasional yang menampilkan inovasi dari 12 negara peserta.
Rachmat menilai tren hiburan masyarakat Indonesia terus berkembang. Meski preferensi berbeda di setiap daerah, kebutuhan masyarakat terhadap sarana rekreasi semakin meningkat.
“Pada dasarnya masyarakat selalu mencari hiburan. Apalagi ketika kondisi kehidupan terasa semakin menekan, kebutuhan untuk berwisata dan mencari hiburan justru meningkat, selama mereka masih memiliki daya beli,” ujarnya.
Meski saat ini pertumbuhan industri rekreasi masih didominasi kota-kota besar karena dipengaruhi tingkat pendapatan masyarakat, ia optimistis peluang pengembangan ke berbagai daerah akan semakin terbuka.
Melalui penyelenggaraan The 6th FUN ASIA EXPO Indonesia 2026, para pelaku industri berharap tercipta kolaborasi baru, peningkatan investasi, serta adopsi teknologi yang mampu memperkuat ekosistem taman rekreasi nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi wisata buatan unggulan di kawasan Asia Tenggara. (PS)