Jelang Kongres HMI dan Munas Kohati, Ketua Umum Kohati Dorong Regenerasi HMI Harus Berbasis Gagasan

Spread the love

JAKARTA, Nusantarabicara — Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) PB HMI, Sri Meisista, menegaskan bahwa Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Musyawarah Nasional (Munas) Kohati merupakan dua agenda penting yang tidak dapat dipisahkan dalam proses regenerasi organisasi.


Pernyataan tersebut disampaikan Sri Meisista seusai menjadi narasumber dalam diskusi Indonesia Strategy Forum bertema “Tantangan HMI dan Kongres HMI yang Pragmatis”, di Abeto Resto, Menteng, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Menurut Sri, berbagai persiapan terus dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Kongres PB HMI dan Munas Kohati berjalan sesuai dengan prinsip serta nilai-nilai organisasi.


“Kongres dan Munas ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Terkait dengan hal-hal yang dipersiapkan, tentunya kami sedang mengupayakan dan mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan selama proses Kongres maupun Munas,” ujar Sri.
Ia mengatakan, kader-kader Kohati bersama HMI saat ini tengah melakukan berbagai persiapan menghadapi pelaksanaan Kongres dan Munas di Lampung.


Namun, di tengah proses tersebut, Sri menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi. Menurutnya, PB HMI harus tetap berdiri secara independen serta berpegang teguh pada prinsip independensi dan etika organisasi.
“Saya sebagai Ketua Umum Kohati pun menjamin bahwa kita masih tetap berpegang teguh pada integritas dari seorang kader HMI, khususnya kader perempuan,” tegasnya.


Regenerasi Tak Sekadar Pergantian Kepemimpinan


Terkait sosok yang diharapkan muncul dalam proses regenerasi HMI, Sri menilai kader yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan harus memiliki kapasitas intelektual sekaligus gagasan yang mampu membawa perbaikan bagi organisasi.
Menurut dia, regenerasi tidak boleh sekadar dimaknai sebagai pergantian kepemimpinan, tetapi harus menjadi momentum untuk menghadirkan kader yang memiliki visi dan kontribusi nyata bagi masa depan HMI.
“Regenerasi juga harus kita persiapkan berdasarkan intelektualitasnya dan berdasarkan apa yang dia bawa untuk memperbaiki dan mengisi organisasi ini ke depannya,” katanya.


Kohati Klaim Internal Organisasi Stabil
Sementara itu, Sri menyebut kondisi internal Kohati PB HMI hingga saat ini berada dalam keadaan stabil. Ia menegaskan, Kohati tetap menjalankan perannya sebagai organisasi perempuan di lingkungan HMI, termasuk dalam menjaga moralitas dan proses perkaderan kader perempuan.


“Kondisi internal di Kohati saya rasa stabil sampai hari ini. Karena kita masih berpegang teguh pada prinsip organisasi perempuan di Himpunan Mahasiswa Islam, yaitu sebagai penjaga moralitas dari kader-kader perempuan se-Indonesia,” jelasnya.
Sri menyebut Kohati memiliki posisi strategis dalam proses perkaderan HMI. Ia bahkan menggambarkan Kohati sebagai “rahim pergerakan” yang turut melahirkan generasi-generasi baru di tubuh HMI.


Karena itu, Kohati terus melakukan pengawasan dan pengawalan terhadap proses perkaderan, mulai dari tingkat pusat, cabang hingga komunitas. “Sampai hari ini Kohati PB HMI masih melaksanakan fungsinya dengan sangat baik dalam mengawal perkaderan yang ada di bawah Kohati se-Indonesia,” ujarnya.


Perempuan, Pendidikan hingga Lingkungan Jadi Fokus


Lebih lanjut, Sri mengungkapkan sejumlah isu yang menjadi perhatian Kohati PB HMI. Isu tersebut meliputi persoalan perempuan, sosial, kesehatan, pendidikan, gender, isu global hingga lingkungan hidup.
Kohati, kata dia, tidak hanya mengawal isu perempuan di ruang publik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap persoalan yang terjadi di internal organisasi, khususnya terkait moralitas kader perempuan.


“Kami juga sering turun dalam pengawalan isu-isu, terutama isu perempuan. Memang banyak isu perempuan di luar sana, namun beberapa kesempatan kami fokuskan ke perempuan yang ada di internal HMI itu sendiri, yakni menjaga moralitas kader,” tuturnya. Untuk isu lingkungan, Kohati juga memiliki bidang khusus yang melakukan kajian dan respons terhadap berbagai persoalan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan banjir bandang.


Kohati Dorong Solidaritas Kader Saat Bencana


Tak hanya berkutat pada isu organisasi, Kohati PB HMI juga menjalankan aksi sosial melalui gerakan solidaritas untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Sri mencontohkan mobilisasi kader dari berbagai cabang di Indonesia untuk membantu korban bencana di sejumlah daerah, termasuk Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.


Terbaru, Kohati juga memfasilitasi kader-kader di sejumlah cabang yang berada di sekitar Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak musibah. “Salah satu aksi yang kami lakukan adalah aksi solidaritas. Bagaimana bisa memobilisasi seluruh teman-teman cabang di Indonesia agar bersama-sama membantu saudara-saudara kita,” ungkap Sri.


Menurutnya, gerakan solidaritas tersebut menjadi bagian dari upaya Kohati untuk memastikan keberadaan organisasi tidak hanya dirasakan dalam ruang perkaderan, tetapi juga hadir memberikan manfaat di tengah masyarakat.


Sri Meisista menjadi salah satu narasumber dalam diskusi Indonesia Strategy Forum bersama Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A., H. Nuzran Joher, S.Ag., M.Si., Muchlis Tapi Tapi, S.Ag., M.H., dan Syukur Mandar. (PS)

Tinggalkan Balasan