Marlowe Bandem : Museum Menjadi Ruang Bagi Generasi Muda Untuk Memahami Jati Dirinya Dan Mengenal Peradaban Nusantara

Nusantara Bicara, JAKARTA — Galeri Nasional Indonesia memperingati Hari Museum Internasional dengan menggelar diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” pada Selasa (19/5/2026).
Dalam forum tersebut, Penasihat SAKA Museum, Marlowe Bandem, menekankan pentingnya transformasi museum sebagai ruang dialog publik, pusat pengetahuan, sekaligus sarana membangun pengalaman budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.


“Kalau berbicara mengenai ekosistem museum, yang paling penting bukan hanya soal koleksi, tetapi bagaimana museum membangun konektivitas, kolaborasi, dan pengalaman otentik bagi masyarakat,” ujar Marlowe dalam paparannya.
Diskusi ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan koordinasi antar-institusi museum seni rupa di Indonesia, sekaligus mengevaluasi sejauh mana museum-museum di Tanah Air telah membangun jejaring nasional yang kuat.


Marlowe menjelaskan, SAKA Museum hadir sebagai museum swasta yang berupaya menghadirkan pengalaman budaya Bali dan Nusantara secara kontekstual dan modern. Museum tersebut berada di kawasan resort di Bali dan dirancang untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang ingin memahami budaya lokal tanpa harus meninggalkan area resort.


Menurutnya, sebelum membangun museum tersebut, tim pengelola terlebih dahulu melakukan studi ke sejumlah museum pemerintah di Bali, termasuk Museum Bali, guna memahami tata kelola, standar kuratorial, hingga tantangan birokrasi dalam pengelolaan museum.
“Kami belajar dari museum pemerintah, kemudian melihat bagaimana museum swasta bisa lebih fleksibel untuk bereksperimen, namun tetap mengikuti standar dan regulasi yang berlaku,” katanya.


Ia juga menyoroti kekayaan ekosistem museum di Bali yang dinilai sangat beragam, mulai dari museum seni rupa, etnografi, ritual budaya, hingga museum kontemporer. Menurutnya, Bali saat ini memiliki lebih dari 50 museum yang terdiri atas museum pemerintah, swasta, hingga museum komunitas.


“Bali kaya sekali dalam konteks kultural. Tradisinya masih hidup dan terus berevolusi, sehingga seni di Bali tidak statis. Ini menjadi kekuatan besar yang perlu dihubungkan dengan museum-museum lain di Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Marlowe menegaskan perlunya sinergi antara museum, galeri, perpustakaan, arsip, dan komunitas budaya agar museum dapat berfungsi sebagai sarana pembelajaran peradaban Nusantara bagi generasi muda.


“Kita berharap museum di masa depan menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami jati dirinya, mengenal peradaban Nusantara, dan memperkuat identitas bangsa Indonesia yang multikultural,” ungkapnya.


Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengunjungi museum dan memanfaatkan berbagai program edukasi yang tersedia.


“Museum memiliki posisi penting sebagai pusat pengetahuan. Kami berharap masyarakat semakin meluangkan waktu untuk datang ke museum, karena museum bukan hanya tempat melihat benda, tetapi ruang belajar, refleksi, dan memahami peradaban,” pungkas Marlowe.


Diskusi publik ini menjadi momentum reflektif dalam memperingati Hari Museum Internasional sekaligus memperkuat komitmen berbagai pihak untuk membangun ekosistem museum Indonesia yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan. (Ardendi)

Tinggalkan Balasan