Nusantara Bicara, Jakarta – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) optimistis mampu meningkatkan kinerja operasional dan keuangan pada tahun 2026 seiring prospek industri gula nasional yang terus berkembang serta rampungnya pembangunan pabrik gula merah yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II tahun ini.
Hal tersebut disampaikan manajemen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Public Expose Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, mengatakan Perseroan terus berupaya meningkatkan produktivitas dan kualitas operasional melalui penguatan manajemen, efisiensi usaha, pengembangan pasar, serta inovasi yang menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

“Perseroan berkomitmen membangun industri gula yang lebih efisien dan bertanggung jawab dengan mengedepankan keberlanjutan usaha dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Saat ini Aman Agrindo menjalankan bisnis perdagangan gula kristal putih dan gula cair yang telah memiliki sertifikat halal dari pemasok Perseroan. Produk gula cair tersebut dipasarkan untuk kebutuhan ritel, business to business (B2B), serta berbagai sektor usaha lainnya.
Selain kegiatan perdagangan gula, Perseroan juga memiliki pengalaman dalam budidaya tebu melalui perkebunan yang berlokasi di Pandeglang, Banten, sejak tahun 2016.
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan terdiri atas Cavani sebagai Komisaris Utama, Andre Hendra Setia sebagai Komisaris Independen, Andreas Utomo sebagai Direktur Utama, serta Michael Utomo sebagai Direktur.
Dari sisi kinerja keuangan, Perseroan mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal pertama 2026. Penjualan hingga 31 Maret 2026 meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh meningkatnya penjualan produk gula.
Total aset Perseroan per 31 Maret 2026 juga meningkat sekitar 1 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya nilai persediaan.
Sementara itu, total liabilitas meningkat sekitar 2 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang terutama dipengaruhi oleh peningkatan utang bank jangka pendek. Adapun total ekuitas meningkat sekitar 0,03 persen seiring bertambahnya laba ditahan yang berasal dari laba bersih kuartal pertama 2026.
Perseroan mencatat Return on Assets (ROA) sebesar 0,02 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 0,03 persen. Untuk rasio keuangan, Debt to Asset Ratio tercatat 0,35 kali, Debt to Equity Ratio sebesar 0,53 kali, serta Current Ratio sebesar 1,27 kali.
Manajemen menilai prospek industri gula nasional masih sangat menjanjikan. Sebagai salah satu komoditas kebutuhan pokok, permintaan gula diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia.
Berdasarkan data yang dipaparkan Perseroan, jumlah penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 2025 mencapai sekitar 284,4 juta jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 292,48 juta jiwa pada tahun 2028. Seiring pertumbuhan tersebut, konsumsi gula domestik diproyeksikan terus meningkat sehingga membuka peluang pertumbuhan bagi industri gula nasional.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis. Di antaranya menawarkan produk gula dengan jumlah pembelian minimum yang rendah dan harga yang kompetitif, membangun pabrik produksi gula merah guna menciptakan integrasi usaha dari hulu ke hilir, menyasar segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta ritel, dan menjaga ketersediaan persediaan guna memenuhi kebutuhan pelanggan secara optimal.
Meski demikian, Perseroan mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah perubahan teknis dalam pembangunan pabrik gula merah yang berpotensi menyebabkan keterlambatan operasional, fluktuasi harga gula yang sulit diprediksi, serta ketidakstabilan kondisi perekonomian yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan permintaan pasar.
Namun demikian, manajemen tetap optimistis kinerja Perseroan pada tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didukung oleh prospek industri gula yang terus bertumbuh serta selesainya pembangunan pabrik gula merah yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan dan profitabilitas perusahaan.
Dalam sesi tanya jawab Public Expose, manajemen juga menegaskan bahwa pabrik gula merah ditargetkan mulai beroperasi pada semester II tahun 2026 dan menjadi salah satu pendorong utama pencapaian target penjualan sebesar Rp336,37 miliar serta laba bersih Rp36,90 miliar pada tahun ini. (PS)