Transisi Energi Sektor Tambang Terkendala Capex, Pengusaha Minta Insentif dan Batu Bara Masih Jadi Jembatan Menuju Energy Bersih

Spread the love

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati Setya Graha dan CEO PT Ucoal Sumberdaya FH. Kristiono menyampaikan pandangan terkait tantangan transisi energi sektor pertambangan dalam Mining Excellence Forum, bagian dari IEE Series 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

JAKARTA, Nusantarabicara -– Percepatan transisi energi menuju kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan penggunaan energi yang lebih bersih di sektor pertambangan Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

Tingginya biaya investasi infrastruktur dan alat berat listrik menjadi salah satu kendala yang membuat pelaku usaha belum sepenuhnya beralih dari teknologi berbasis bahan bakar fosil. Persoalan tersebut mengemuka dalam seminar Mining Excellence Forum yang merupakan bagian dari Indonesia Energy & Engineering Series (IEE Series) 2026, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha, mengatakan penerapan kendaraan listrik di sektor pertambangan membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat dari pemerintah, terutama dalam menekan beban capital expenditure (Capex) yang harus ditanggung perusahaan.

Menurutnya, skema insentif kendaraan listrik yang tersedia saat ini masih lebih banyak menyasar kendaraan penumpang masyarakat umum.

Sementara perusahaan pertambangan harus menanggung sendiri investasi infrastruktur pengisian daya maupun pengadaan armada listrik. “Kalau kendaraan penumpang masyarakat diberi kemudahan seperti pajak nol dan hanya butuh penambahan daya PLN biasa, di sektor pertambangan kami harus menanggung seluruh biaya infrastruktur (capex) sendiri. Biaya per kWh dan investasi infrastrukturnya jauh lebih tinggi dari harga pasar,” ujar Setya Graha saat ditemui di sela acara.

Selain persoalan infrastruktur, harga alat berat (heavy equipment) berbasis listrik juga dinilai masih jauh lebih tinggi dibandingkan peralatan yang menggunakan bahan bakar fosil. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha pertambangan masih berhati-hati melakukan peremajaan armada menuju teknologi listrik.

Pasalnya, meskipun penggunaan energi listrik berpotensi memberikan efisiensi operasional dalam jangka panjang, investasi awal yang harus dikeluarkan masih cukup besar. Setya berharap pemerintah dapat menghadirkan skema insentif investasi yang lebih proporsional bagi sektor pertambangan.

Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan agar biaya investasi alat berat listrik dapat ditekan hingga setidaknya setara dengan armada konvensional.
“Kami berharap ada skema insentif atau dukungan insentif investasi agar nilai Capex alat berat listrik setidaknya setara, atau bahkan lebih murah dibandingkan armada konvensional,” jelasnya.

Untuk menyiasati besarnya investasi awal, PT Surya Kalimantan Sejati juga mendorong kemitraan strategis dengan prinsipal produsen alat berat yang bersedia berbagi skema investasi.

Menurut Setya, peluang efisiensi dari peralihan bahan bakar fosil ke listrik sebenarnya cukup besar. Namun, manfaat tersebut harus berhadapan dengan tingginya biaya investasi pada tahap awal.
“Keuntungan efisiensi dari bahan bakar ke listrik sebenarnya sangat menggoda.

Namun di sisi lain, biaya investasi awalnya juga membebani. Kami memilih untuk mengambil peluang dan risiko tersebut demi mendorong efisiensi jangka panjang, meskipun tantangan biayanya masih sangat besar,” pungkasnya.

Batu Bara Masih Jadi Energi Jembatan Menuju Energy Bersih

Di tengah dorongan elektrifikasi dan pengurangan penggunaan energi fosil, pelaku usaha batu bara menilai komoditas tersebut masih memiliki peran dalam proses transisi energi Indonesia.

FH. Kristiono, Chief Executive Officer (CEO) PT Ucoal Sumberdaya, mengatakan batu bara masih dapat berfungsi sebagai energi jembatan untuk membuka akses masyarakat terhadap energi yang lebih murah dan tersedia. “Batu bara dipakai untuk jadi jembatan menuju akses energi guna mendapatkan energi yang lebih murah, bila energy Bersih sudah tersedia di masyarakat. Itu baru kita tinggalkan batu bara,” ujar Kristiono.

Menurutnya, transisi energi tidak dapat dilakukan hanya dengan menghentikan penggunaan batu bara. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan terlebih dahulu bahwa sumber energi alternatif telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor industri secara memadai.

Kristiono juga mengakui bahwa penggunaan batu bara pada akhirnya perlu dikurangi karena memiliki tingkat emisi yang tinggi.
“Karena batu bara kan emisinya tinggi,” katanya.

Ia menilai, proses transisi harus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keterjangkauan harga energi, ketersediaan pasokan, ketahanan energi, serta dampak lingkungan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan transisi energi di sektor pertambangan bukan semata-mata persoalan teknologi.

Aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, kemampuan investasi perusahaan, hingga ketersediaan energi pengganti menjadi faktor yang menentukan kecepatan perubahan.
Di satu sisi, elektrifikasi alat berat menawarkan peluang efisiensi dan pengurangan emisi. Namun di sisi lain, tingginya biaya investasi masih menjadi hambatan bagi pelaku usaha.

Sementara itu, batu bara masih dipandang memiliki fungsi strategis selama proses menuju sistem energi yang lebih bersih belum sepenuhnya siap.

Karena itu, keberhasilan transisi energi Indonesia membutuhkan keseimbangan antara target pengurangan emisi dengan kebutuhan menjaga energi tetap tersedia, terjangkau, dan mampu menopang aktivitas industri.

Transisi energi pada akhirnya bukan sekadar meninggalkan batu bara dan bahan bakar fosil, tetapi juga memastikan hadirnya teknologi, infrastruktur, serta sumber energi alternatif yang mampu menggantikan perannya secara bertahap dan berkelanjutan.(Padrik)

Tinggalkan Balasan