DEPOK, Nusantarabicara.com — Yang awalnya digadang-gadang sebagai ajang mempererat kebersamaan, justru berubah menjadi drama panas di tengah jalan. Program “Wisata Keberagaman” warga RT 01 hingga RT 05 RW 04, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok, berakhir dengan kekecewaan, kemarahan, dan segudang pertanyaan pada Sabtu, 14 Juni 2026.Panduan Kota & Daerah
Alih-alih membawa kebahagiaan, perjalanan ziarah ke Masjid Agung Banten dan wisata ke Pantai Sambolo ini justru menelanjangi bobroknya manajemen dan transparansi anggaran senilai Rp25 juta.
Sebanyak lima armada bus dari PO Medal Jaya disiapkan untuk memberangkatkan ratusan warga. Namun petaka datang lebih cepat dari tujuan.
Rombongan RT 02 dan RT 03/RW 04 harus menelan pil pahit ketika bus yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok di tengah perjalanan pulang dari Banten. Penderitaan belum selesai. AC bus ikut mati total. Panas, pengap, dan emosi pun meledak di dalam kabin.Transportasi Rel & Bus untuk Jarak Jauh
“Perjalanan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi siksaan karena panas dan ketidakpastian,” ujar seorang warga dengan nada kecewa kepada awak media, Minggu (5/7/2026).
Masalah teknis ternyata bukan satu-satunya luka. Warga membongkar adanya pungutan tambahan Rp50.000 per orang untuk tiket wisata dan tol.
Dengan kapasitas 59 orang per bus dan 4 armada yang jalan, total pungutan warga mencapai Rp11,8 juta. Sementara warga RT 02/RW 04 mengaku tidak ikut membayar karena memakai kas lingkungan.Kematian & Tragedi
Padahal, dana resmi dari program ini disebut-sebut mencapai Rp25 juta. Inilah yang memicu kecurigaan.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, satu bus butuh biaya operasional sekitar Rp4,6 juta. Kalau dikali lima bus, totalnya Rp23 juta. Kami pertanyakan sisa Rp2 juta, apalagi warga sudah dipungut lagi untuk tiket dan tol,” tegas salah satu warga.
Bagi warga Cimpaeun, ketidakjelasan rincian anggaran ini bukan sekadar soal angka. Ini soal kepercayaan. Program yang bertujuan membangun toleransi dan kebersamaan justru tercoreng karena minimnya akuntabilitas.Perencanaan & Pengelolaan Keuangan
Warga kini mendesak keras penyelenggara untuk segera membuka pertanggungjawaban keuangan secara terbuka dan melakukan evaluasi total. Tujuannya satu: agar insiden memalukan ini tidak lagi terulang dan merusak semangat gotong royong warga Depok.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan tersebut. (Agus)