APPI: Indonesia Tak Perlu Impor Lagi, Industri Peralatan Listrik Nasional Siap Memasok Kebutuhan Peralatan Listrik Di Indonesia

Spread the love

JAKARTA, Nusantarabicara.com — Industri peralatan listrik nasional dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu motor penggerak pembangunan kawasan industri cerdas sekaligus memperkuat kemandirian teknologi Indonesia.


Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI), Ahmad Riandhie, menegaskan industri dalam negeri kini telah memiliki kemampuan manufaktur untuk memenuhi berbagai kebutuhan peralatan kelistrikan nasional.


Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad saat menjadi pembicara dalam seminar panel bertajuk “Powering Smart Industrial Estates: Advanced Electrical Equipment, TKDN, and Grid Efficiency”, bagian dari rangkaian Indo Machinery Investment and Trade Show 2026 – The Indonesia’s Platform for Machinery and Manufacturing Innovation, di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).


Menurut Ahmad, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa berbagai kebutuhan peralatan listrik sudah mampu diproduksi oleh industri nasional.
“Yang penting masyarakat mengetahui bahwa peralatan listrik sudah dapat dibuat di dalam negeri. Kita tidak perlu impor lagi,” ujar Ahmad seusai acara.


Ia menegaskan, industri peralatan listrik Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi dari luar negeri. Para produsen nasional telah memiliki kapasitas manufaktur dan sumber daya produksi untuk mengerjakan beragam kebutuhan kelistrikan.


“Semua anggota kami adalah pabrikan dan produsen, sehingga produk-produk tersebut bisa kami kerjakan,” katanya.
TKDN Harus Jadi Kekuatan Industri Nasional
Ahmad mengatakan kemampuan manufaktur tersebut harus diikuti dengan peningkatan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).


Menurutnya, TKDN bukan sekadar angka dalam sebuah proyek, tetapi harus menjadi instrumen untuk membuktikan bahwa industri nasional memiliki kemampuan menghasilkan produk berkualitas dan kompetitif.


Penguatan TKDN juga dinilai penting untuk memastikan belanja pembangunan infrastruktur kelistrikan memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan industri nasional, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan teknologi dalam negeri.
Dengan kapasitas manufaktur yang semakin kuat, industri nasional diharapkan mampu mengambil porsi lebih besar dalam berbagai proyek pembangunan kelistrikan dan kawasan industri di Indonesia.


Generasi Muda Jangan Hanya Jadi Penonton
Di sisi lain, APPI melihat sektor kelistrikan sebagai ladang peluang yang sangat terbuka bagi generasi muda dan pelaku UMKM.
Ahmad mengungkapkan, APPI aktif berkomunikasi dengan perguruan tinggi dan berbagai kementerian untuk memperkenalkan kondisi serta peluang industri peralatan listrik kepada mahasiswa dan calon pelaku usaha.


“Kami sering diminta menjadi narasumber oleh kementerian terkait SDM maupun oleh perguruan tinggi untuk menyampaikan kondisi industri peralatan listrik saat ini,” jelasnya. Menurut Ahmad, langkah tersebut penting agar generasi muda tidak hanya mengenal sektor kelistrikan sebagai konsumen, tetapi memahami peluang untuk masuk sebagai produsen, pemasok, inovator, maupun bagian dari rantai pasok industri.
“Ini supaya mereka mengetahui sejauh mana bisa masuk ke bisnis peralatan listrik dan melihat peluangnya ke depan,” ujarnya.


Ia menilai perkembangan kebutuhan listrik nasional membuka ruang yang luas bagi lahirnya pelaku usaha baru, termasuk perusahaan rintisan, UMKM berbasis teknologi, hingga industri pendukung.
RUPTL Bisa Jadi Peta Peluang Bisnis
Ahmad juga mendorong calon pelaku usaha memanfaatkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebagai salah satu referensi untuk membaca besarnya peluang industri kelistrikan Indonesia.


RUPTL, kata dia, memberikan gambaran mengenai arah pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan nasional, termasuk kebutuhan transmisi, gardu induk, gardu distribusi hingga jaringan distribusi.
“Di situ jelas berapa kilometer sirkit kebutuhan transmisi, berapa ribu MVA gardu induk, gardu distribusi dan jaringan distribusi,” kata Ahmad.


Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi industri untuk menentukan kapasitas produksi, investasi, pengembangan teknologi, hingga strategi bisnis.
Dengan demikian, pelaku usaha dapat menyesuaikan produk yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata pembangunan infrastruktur kelistrikan nasional.
“Jadi mereka bisa melihat bagaimana kondisi industri saat ini dan bagaimana masa depannya, kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada,” tambahnya.


Dari Pabrik Dalam Negeri Menuju Industri Berdaya Saing Global


APPI yang berdiri sejak Mei 1976 merupakan wadah bagi industri produsen peralatan dan panel listrik Indonesia. Asosiasi ini turut menjadi bagian dari ekosistem industri nasional dalam mendorong penguatan produsen dalam negeri, standardisasi mutu, serta pengembangan infrastruktur energi dan kelistrikan.


Penguatan industri peralatan listrik dinilai semakin strategis seiring kebutuhan Indonesia membangun kawasan industri yang semakin modern, efisien, terintegrasi dan berbasis teknologi.


Karena itu, kombinasi antara penguatan manufaktur nasional, peningkatan TKDN, efisiensi jaringan listrik, pengembangan SDM, serta keterlibatan generasi muda dan UMKM menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi mampu menjadi produsen.


Jika konsistensi tersebut dijaga, industri peralatan listrik nasional bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpeluang naik kelas menjadi pemain regional dan global. (P)

Tinggalkan Balasan