Direktur Sino Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri Dorong Masyarakat Indonesia Bangun Persepsi Positif Hubungan Indonesia-Tiongkok

Spread the love

JAKARTA, Nusantarabicara — Perubahan persepsi masyarakat Tiongkok terhadap Indonesia dalam satu dekade terakhir dinilai tidak terlepas dari semakin intensifnya hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Direktur Sino Nusantara Institute Ahmad Syaifudin Zuhri mengatakan, jika sekitar 10–15 tahun lalu nama Indonesia di ruang digital Tiongkok masih banyak dikaitkan dengan berbagai peristiwa kerusuhan 1998, kini persepsi tersebut mulai bergeser ke arah yang lebih positif.


Hal itu disampaikan Ahmad Syaifudin dalam Seminar Nasional dan peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club yang diselenggarakan Sino Nusantara Institute dengan tema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia-Tiongkok” di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (15/9/2026).


Ahmad mengatakan, perubahan tersebut merupakan proses panjang yang tidak dapat dilepaskan dari interaksi langsung masyarakat Indonesia dan Tiongkok.
“Ketika kita mendengar nama Indonesia di Tiongkok, dalam persepsi Tiongkok sebagai negara Indonesia, sekitar 2014–2015, ketika kita mencari nama Indonesia di mesin pencarian Baidu, yang muncul masih banyak terkait kejadian 1998,” ujar Ahmad.


Menurut dia, kondisi tersebut perlahan berubah dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir. Persepsi positif terhadap hubungan Indonesia-Tiongkok pun disebut mengalami perkembangan. Ia menilai, perubahan persepsi tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi antarpemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat kedua negara.


Diplomasi Algoritma Ikut Membentuk Persepsi


Ahmad juga menyoroti semakin pentingnya ruang digital dalam membentuk persepsi publik. Menurutnya, perkembangan teknologi dan algoritma media digital telah melahirkan bentuk baru diplomasi yang dapat disebut sebagai “diplomasi algoritma.”
Algoritma menentukan informasi yang muncul kepada seseorang berdasarkan apa yang dicari, dilihat, dibaca, maupun digulir (scroll).


“Diplomasi bukan hanya antarnegara. Ada istilah diplomasi algoritma,” katanya.
Karena itu, menurut Ahmad, masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan narasi positif mengenai hubungan Indonesia-Tiongkok melalui ruang digital.
Konten yang diproduksi dan disebarluaskan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses membangun pemahaman antarbangsa.


Pertukaran Masyarakat Harus Melahirkan Proyek Bersama


Ahmad mengatakan, kerja sama Indonesia-Tiongkok ke depan perlu didorong lebih konkret melalui berbagai bentuk pertukaran masyarakat.


Pertukaran tersebut tidak hanya berupa people exchange, tetapi juga harus mampu melahirkan proyek bersama yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
“Dari pertukaran itu memunculkan joint project atau proyek bersama terkait dengan apa yang perlu dilakukan oleh para pelaku kedua negara,” jelasnya.


Ia mencontohkan kerja sama kebudayaan melalui pertukaran seni dan musik. Pertemuan berbagai budaya, menurutnya, dapat menghasilkan karya kolaboratif yang mempertemukan unsur budaya Indonesia dan Tiongkok.


Salah satunya adalah kolaborasi alat musik tradisional seperti gamelan dengan alat musik Tiongkok. Menurut Ahmad, kebudayaan memiliki kekuatan untuk melewati batas negara karena dapat dinikmati dan dipahami secara bersama. “Budaya itu tidak mengenal batasan. Bagaimana kita menikmati bersama,” ujarnya.


Pengusaha Indonesia Perlu Lebih Banyak Masuk ke Tiongkok


Selain budaya, Ahmad menilai hubungan antarmasyarakat juga harus diperkuat melalui sektor bisnis. Ia mengakui pertumbuhan pengusaha dan perusahaan Tiongkok yang beraktivitas di Indonesia cukup besar. Namun, kondisi sebaliknya, yakni perusahaan Indonesia yang berkembang dan masuk ke pasar Tiongkok, dinilai masih perlu diperkuat.


Karena itu, forum pertukaran antarmasyarakat dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi pertemuan bisnis dan membuka peluang kerja sama baru.
“Tidak hanya bagaimana perusahaan Tiongkok yang ke sini, tetapi bagaimana perusahaan Indonesia juga tumbuh bersama dengan perusahaan yang di Tiongkok,” katanya.


Kerja sama serupa, lanjutnya, juga dapat dikembangkan di bidang akademik dan berbagai sektor lainnya.


Membangun Kepercayaan Antarbangsa


Ahmad menegaskan, tujuan utama dari berbagai bentuk pertukaran tersebut bukan sekadar menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, melainkan membangun hubungan antarmanusia.
Menurutnya, hubungan antarmasyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok.


“Bagaimana menghubungkan antarmanusia itu menjadi sangat penting bagi hubungan bilateral dua negara,” tegasnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dan Tiongkok yang saling mengenal, memahami, dan membangun kepercayaan.


“Semoga ke depan kita bisa saling mengenal, saling memahami, dan saling percaya sehingga menciptakan kerja sama secara langsung antarbangsa Indonesia,” pungkas Ahmad. (P)

Tinggalkan Balasan