Ikhtiar Revitalisasi Keraton Nusantara Oleh FSKN, “Menjaga Api yang Nyaris Redup Agar Tetap Hidup”

Nusantara Bicara, JAKARTA — Di sebuah sudut Gedung Antara, Pasar Baru, suara langkah kaki berbaur dengan bisik percakapan para tamu. Lukisan-lukisan berjejer rapi di dinding, menampilkan kemegahan arsitektur potret wajah-wajah leluhur yang seolah menatap dari masa lalu.

Di ruang itulah, ingatan tentang Nusantara seperti dihidupkan kembali oleh Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) dengan menggelar seminar nasional dan pameran lukisan bertajuk “Revitalisasi Keraton Nusantara” pada 24–28 April 2026.

Namun lebih dari sekadar agenda budaya, pertemuan ini terasa seperti upaya menjaga sesuatu yang nyaris redup: jati diri bangsa.

Dqlqm sebuah kesempatan wawancara dengan media, Ketua Umum FSKN, Brigjen Pol (Purn) Dr. A.A. Mapparessa, berdiri dengan tenang. Tutur katanya pelan, namun sarat makna.“Keraton itu bukan sekadar bangunan tua,” ujarnya. “Ia hidup. Di dalamnya ada nilai, ada cara berpikir, ada cara memimpin, ada cara manusia menjaga hubungan dengan sesama dan alam.”Revitalisasi Keraton Nusantara ini Bukan Menghidupkan Masa Lalu, Tapi Menyelamatkan Masa Depan,” ucapnya.

Bagi banyak orang, keraton mungkin identik dengan masa lalu—tentang raja, tahta, dan cerita yang terasa jauh dari kehidupan modern.

Ketua Umum FSKN (Forum Silaturahmi Keraton Nusantara), Brigjen Pol (Purn) Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.H.

Namun bagi Mapparessa, justru di sanalah letak kekeliruannya.Revitalisasi, katanya, bukan upaya menghidupkan kembali feodalisme. Ini adalah usaha mengangkat kembali nilai-nilai yang pernah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Nusantara: gotong royong, musyawarah, kebijaksanaan, dan harmoni.Nilai-nilai itu, menurutnya, kini semakin jarang terdengar.“Padahal Indonesia hari ini sangat membutuhkan itu,” katanya.

Keraton yang Perlahan Dilupakan Di berbagai daerah, banyak keraton berdiri dalam diam. Sebagian masih bertahan dengan segala keterbatasan, sebagian lain mulai kehilangan denyut kehidupannya.

Naskah kuno yang tak sempat didokumentasikan. Bahasa dan adat yang tak lagi dipahami generasi muda. Seni pertunjukan yang hanya muncul sesekali, lalu kembali tenggelam.“Kalau tidak kita mulai sekarang, kita akan kehilangan banyak,” ujar Mapparessa.

Ia menyebut tantangan terbesar bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga regenerasi—siapa yang akan melanjutkan, siapa yang akan menjaga.

Keraton Itu Milik Mereka yang Tinggal di Sekitarnya.

Di tengah pembicaraan tentang pelestarian, Mapparessa menyoroti satu hal yang sering luput: keraton bukan hanya milik raja.Ia bercerita tentang Yogyakarta, di mana masyarakat memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan keraton. Bagi mereka, keraton bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.“Rasa memilikinya luar biasa,” katanya.

Harapan serupa ingin ia lihat tumbuh di keraton-keraton lain di Nusantara—bahwa masyarakat merasa memiliki, merawat, dan bangga terhadap warisan budayanya sendiri.Tentang Obor yang Jangan Sampai Padam.

Di sela percakapan, Mapparessa mengingat istilah lama yang kini jarang terdengar: kematen obor.Sebuah ungkapan sederhana, namun maknanya dalam—tentang generasi yang kehilangan arah karena tak lagi mengenal asal-usulnya.“Jangan sampai itu terjadi,” ujarnya pelan.

Ia melihat fenomena hari ini, ketika banyak anak muda lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan warisan bangsanya sendiri. Bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak pernah benar-benar dikenalkan.“Cerita tentang kita sendiri kurang ditulis, kurang disampaikan,” katanya.Ikhtiar yang Tak Hanya Soal Usaha.

Bagi Mapparessa, revitalisasi keraton bukan sekadar program kerja. Ia menyebutnya sebagai ikhtiar—yang di dalamnya ada usaha dan doa.“Kita berusaha semaksimal mungkin. Hasilnya kita serahkan kepada Tuhan,” ucapnya.

Ia membayangkan, jika langkah ini terus dijaga, dalam beberapa tahun ke depan keraton-keraton di Nusantara bisa kembali hidup—bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi sebagai pusat budaya dan penggerak ekonomi masyarakat.

Menjaga yang Tersisa, Menumbuhkan yang Baru.

Di ruang pameran, seorang pengunjung muda berdiri lama di depan sebuah lukisan keraton. Ia memperhatikan setiap detail, seolah mencoba memahami sesuatu yang baru saja ia temukan.Mungkin, di situlah harapan itu tumbuh—pelan, tapi nyata.

Revitalisasi keraton bukan hanya tentang memperbaiki bangunan atau menggelar acara. Ia adalah upaya menjaga ingatan, merawat identitas, dan memastikan bahwa cerita tentang Nusantara tidak berhenti di generasi ini. Sebab jika keraton adalah penjaga nilai, maka menjaganya berarti menjaga arah bangsa.

Dan seperti obor yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang terpenting bukan hanya bagaimana ia menyala hari ini—tetapi bagaimana memastikan ia tidak pernah padam, sepanjang masa. (ps)

Tinggalkan Balasan