Ketua Umum APDI, Dr. M. Akbar Marwan : Indonesia Punya 15 Ribu Pilot Drone, Tinggal Membangun Ekosistem Industri-nya Yang Berkelanjutan

Spread the love

JAKARTA, Nusantarabicara.com — Industri drone Indonesia terus berkembang dengan semakin banyaknya pilot, produsen lokal, hingga pemanfaatan teknologi pesawat tanpa awak di berbagai sektor. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya ditopang ekosistem industri nasional yang mandiri.

Ketua Umum Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Dr. M. Akbar Marwan, S.T., M.M.S.I, mengungkapkan, saat ini sedikitnya 15.000 pilot drone telah terdaftar di Indonesia. Jumlah tersebut dinilai menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap profesi sekaligus regulasi penggunaan drone.

Hal itu disampaikannya saat ditemui dalam Indonesia Drone Expo (IDE) 2026 yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, IDE tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan produk dan teknologi drone, tetapi juga dapat menjadi barometer untuk melihat sejauh mana kemampuan teknologi yang telah dikembangkan Indonesia. “Yang sudah dicapai oleh Indonesia, teknologi yang dapat dibuat oleh anak bangsa. Paling tidak ini menjadi barometer, kita bisa melihat sejauh mana Indonesia sudah bisa advance,” ujarnya.

Ia mengatakan, pameran tersebut juga penting untuk memetakan pemain industri drone di dalam negeri sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknologi yang sudah mampu diproduksi secara lokal, teknologi yang masih menggunakan komponen asing, maupun produk yang merupakan kombinasi keduanya.

15 Ribu Pilot Drone Terdaftar

Pertumbuhan jumlah pilot drone menjadi salah satu indikator berkembangnya ekosistem drone nasional.
APDI mencatat sekitar 15 ribu pilot drone telah terdaftar. Menurutnya, meningkatnya kesadaran terhadap aspek hukum dan keselamatan membuat semakin banyak pengguna drone mengikuti ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, pertumbuhan jumlah pilot harus diikuti dengan peningkatan kompetensi dan budaya keselamatan.
Ia mengingatkan para pilot maupun pengguna drone agar tidak sekadar mengikuti tren teknologi.
“Jangan FOMO. Misalnya melihat ada drone yang bisa mengangkat 100 kilogram, kemudian ikut-ikutan. Memang bisa, tetapi safety-nya juga harus dijaga. Bisa belum tentu aman,” tegasnya.

Peringatan tersebut menjadi penting seiring semakin beragamnya kemampuan drone, mulai dari perangkat untuk pemetaan, pertanian, industri, hingga drone berkapasitas angkut besar.

Drone Pertanian Lokal Mulai Berkembang


Di sektor pertanian, perkembangan industri drone nasional juga mulai menunjukkan kemajuan.

APDI menyebut saat ini terdapat sekitar empat hingga lima produsen lokal yang memproduksi drone untuk kebutuhan pertanian. Sejumlah produk lokal bahkan telah digunakan dalam program pemerintah.
Beberapa produsen yang disebut antara lain Prox, Aerotron, dan Sky Nusa.
“TKDN-nya 40 sampai 60 persen. Jadi sudah bisa dibuat di lokal,” katanya.

Perkembangan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi penguatan industri drone nasional, khususnya dalam mendukung transformasi teknologi di sektor pertanian dan ketahanan pangan. Namun, tantangan terbesar masih berada pada kemampuan industri dalam membangun rantai pasok komponen secara utuh di dalam negeri.

Motor hingga Flight Controller Masih Impor

APDI menilai ekosistem industri drone Indonesia belum sepenuhnya terbentuk karena sejumlah komponen utama masih harus didatangkan dari luar negeri.
Komponen seperti motor, flight controller, dan propeller disebut masih banyak bergantung pada impor.
“Belum semua part-part drone itu bisa dibuat di lokal. Ada yang masih diimpor. Contohnya motor, flight control, propeller, itu masih impor,” ungkapnya.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga menyangkut skala pasar dan keberlanjutan industri. Semakin besar penggunaan produk drone buatan dalam negeri, maka semakin terbuka peluang bagi industri komponen lokal untuk tumbuh.
“Kata kuncinya, makin banyak orang lokal beli, baru bisa hidup,” ujarnya.

Mahasiswa Mulai Kuasai Teknologi Drone

Selain industri, pengembangan teknologi drone juga mulai berkembang di lingkungan perguruan tinggi.

APDI menyebut mahasiswa Indonesia saat ini sudah mampu mengembangkan dan membuat drone melalui berbagai kegiatan riset dan kompetisi. Salah satunya melalui Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) yang menjadi wadah mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teknologi drone.


“Sekarang ini sedang berlangsung lomba KRTI, Kontes Robot Terbang Indonesia. Jadi memang semua sedang musimnya drone,” katanya.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan sumber daya manusia Indonesia untuk mengembangkan teknologi drone sebenarnya sudah tersedia dan tinggal diperkuat melalui ekosistem industri yang lebih terintegrasi.

APDI juga telah menjalin kerja sama dengan Kodiklat TNI untuk memberikan pelatihan terkait drone kepada personel TNI.


Peluang Industri di Tengah Perubahan Pasar Global


Perkembangan pasar global juga dinilai membuka peluang bagi industri drone Indonesia.

APDI menyebut adanya perubahan kebijakan perdagangan dan ekspor drone dari China turut memunculkan peluang bagi pasar Indonesia. Kondisi tersebut membuat sejumlah pihak mulai mencari alternatif produk drone dari luar China melalui pasar Indonesia. “Kesempatannya ada di situ,” ujarnya.

Meski demikian, peluang tersebut harus diikuti kemampuan Indonesia untuk memperkuat industri domestik. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk asing tanpa mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.


Karena itu, penyelenggaraan IDE 2026 dinilai penting untuk mempertemukan pelaku industri sekaligus menunjukkan peta kemampuan teknologi drone Indonesia.

Pameran bertema “Unleashing the Power of Intelligent Aerial Systems” tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan teknologi drone, pemain industri, kemampuan produksi lokal, serta peluang pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan sistem udara pintar.

Bagi APDI, ukuran keberhasilan industri drone Indonesia pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak drone yang digunakan, tetapi juga seberapa kuat kemampuan Indonesia membuat teknologi dan komponen sendiri serta menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan. (Agus)

Tinggalkan Balasan