Menanam Harapan di Tello Baru: Dari Seremoni ke Gaya Hidup Hijau

Nusantara Bicara, Tello Baru — Pagi itu, Kamis (23/04/2026), suasana di Jalan Alternatif Perintis Kemerdekaan–Dr. Leimena, Kelurahan Tello Baru, terasa berbeda. Deretan bibit pohon tersusun rapi di tepi jalan, sementara warga, aparat kecamatan, dan jajaran TNI tampak berbaur tanpa sekat.

Tangan-tangan yang biasanya sibuk dengan rutinitas harian, kini kompak menggenggam cangkul dan menyentuh tanah—menanam sesuatu yang lebih dari sekadar pohon: yaitu sebuah harapan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan HUT ke-80 Persit, namun nuansanya jauh dari sekadar seremoni. Di bawah langit cerah, Pemerintah Kecamatan Panakkukang bersama TNI mencoba menghadirkan pesan sederhana yang sering terlupakan—bahwa menjaga lingkungan dimulai dari langkah kecil, dari satu lubang tanah, dari satu pohon yang ditanam bersama.

Camat Panakkukang, Syahril, hadir langsung di tengah kegiatan. Ia tak hanya memberi arahan, tetapi ikut menanam, berbaur dengan warga. Sesekali ia berbincang ringan, menyapa, bahkan tersenyum ketika melihat antusiasme masyarakat yang datang.

“Kalau ini hanya berhenti di hari perayaan, sayang sekali,” ucapnya. Baginya, menanam pohon bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kebiasaan yang harus tumbuh bersama masyarakat—dari tingkat kelurahan hingga RT/RW, tuturnya.

Di sisi lain, Lurah Tello Baru, Syafrin, tampak sibuk memastikan jalannya kegiatan tetap tertib. Ia sesekali mengarahkan posisi penanaman, memastikan setiap bibit memiliki ruang tumbuh yang cukup. Bagi warga, kehadiran pemimpin di tengah kegiatan seperti ini memberi makna tersendiri—bahwa gerakan ini bukan sekadar instruksi, tetapi contoh nyata.

Jenis pohon yang ditanam pun beragam, mulai dari tanaman produktif hingga pohon pelindung yang diharapkan kelak memberi keteduhan di sepanjang jalan. Namun, cerita tidak berhenti saat tanah kembali diratakan. Ada tanggung jawab yang ikut ditanam bersama bibit-bibit itu.Petugas kebersihan kecamatan bersama warga setempat akan memantau pertumbuhannya. Air, pupuk, dan perhatian akan menjadi bagian dari rutinitas baru—sebuah bentuk gotong royong yang tak lagi hanya berbentuk tenaga, tetapi juga kepedulian.

Menjelang akhir kegiatan, tawa dan obrolan ringan mengisi suasana. Foto bersama menjadi penutup, namun bukan akhir. Di balik jepretan kamera, tersimpan komitmen diam-diam: menjaga apa yang telah ditanam hari ini agar tetap hidup esok hari.

Di Tello Baru, pohon-pohon itu mungkin masih kecil. Namun, harapan yang tumbuh bersamanya terasa jauh lebih besar, yaitu tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersamaan, dan kepedulian menjaga lingkungan yang manfaatnya akan dihasilkan di kemudian hari.(Mukhlis)

Tinggalkan Balasan