Menjaga Hutan, Mengolah Harapan: Kiprah Perempuan Semendo Dorong Kopi Menuju Pasar Dunia

Tesa dari Women Forest Defender ( 25 tahun ) asal Semendo, Sumatera Selatan, p3njaga dan oengelolaan Hutan Indonesia (FP3HI).

Nusantara Bicara, Jakarta — Di balik aroma kopi yang perlahan menembus pasar ekspor, ada tangan-tangan perempuan desa yang bekerja dalam senyap, menjaga hutan sekaligus merawat harapan.


Adalah Tesa, perempuan muda berusia 25 tahun asal Semendo, Sumatera Selatan, yang menjadi bagian dari gerakan ini. Ia hadir dalam seminar bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim” di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Senin (27/4/2026), membawa cerita tentang perjuangan komunitasnya.


Bersama kelompok perempuan yang terbentuk pada 2023, Tesa dan rekan-rekannya tidak hanya berbicara soal pemberdayaan, tetapi langsung bergerak menjaga hutan desa seluas 1.141 hektare di wilayah mereka.


“Kelompok ini lahir untuk mengelola hutan adat dan hutan desa yang sudah ada. Kami menjaga, melindungi, sekaligus mencari cara agar masyarakat tetap sejahtera tanpa merusak hutan,” ungkapnya.
Dari hutan itu pula, harapan ekonomi tumbuh. Kopi—komoditas utama masyarakat Semendo—menjadi pintu masuk perubahan. Dahulu, kopi hanya dipetik, dijemur seadanya, lalu dijual dengan harga rendah.


Namun pendampingan dari berbagai pihak, termasuk lembaga lingkungan dan pemberdayaan perempuan, mulai mengubah cara pandang masyarakat.
“Kami jadi tahu kalau kopi harus dipetik merah, diolah dengan standar tertentu supaya bisa masuk pasar yang lebih tinggi,” kata Tesa.


Meski begitu, perjalanan mereka belum sepenuhnya mulus. Keterbatasan sarana masih menjadi tantangan nyata. Proses pengeringan kopi, misalnya, masih dilakukan secara sederhana—bahkan terkadang di atas terpal atau di pinggir jalan—yang belum memenuhi standar ekspor.


Harapan mulai terbuka ketika dukungan datang dari Balai Perhutanan Sosial Palembang, yang menjembatani kelompok ini dengan jaringan ekspor, termasuk mitra di Muara Enim.


Tahun ini menjadi momentum penting. Untuk pertama kalinya, kopi dari Semendo ditargetkan menembus pasar internasional.
“Insyaallah tahun ini kami mulai mengolah kopi sesuai standar ekspor. Ini pertama kalinya bagi kami,” ujarnya penuh optimisme.


Uniknya, seluruh kebun kopi yang dikelola berasal dari lahan milik pribadi anggota. Namun melalui skema kolektif, hasil panen dikumpulkan, diolah bersama, lalu dipasarkan. Keuntungan pun dibagi kembali kepada 15 anggota kelompok.
Di balik perannya, Tesa merendah. Ia bukan ketua kelompok, melainkan anggota biasa. Namun semangatnya menjadikannya motor penggerak.
“Karena saya generasi muda dan masih aktif, saya ingin kelompok ini terus maju,” katanya.


Ke depan, ia berharap pemerintah bisa lebih hadir dan responsif terhadap kelompok-kelompok akar rumput seperti mereka.
“Pendampingan itu penting, tapi pemerintah juga harus lebih peka dan mau berkolaborasi. Kami butuh itu untuk berkembang,” tegasnya.


Bagi Tesa dan perempuan Semendo lainnya, menjaga hutan bukan sekadar kewajiban—melainkan jalan untuk masa depan. Dari lereng-lereng hijau Sumatera Selatan, mereka membuktikan bahwa emansipasi tak berhenti pada kata, tetapi hidup dalam aksi nyata. (PS)

Tinggalkan Balasan