Musisi dan Polisi Rilis Single “Jati Diri Bangsa” Bergerak Membangun Indonesia

Nusantara Bicara, Jakarta — Ipang Lazuardi, Pay Burman, dan Brigjen Pol Kanggeng Purnomo mempertemukan musik dan pesan kebangsaan dalam lagu Jati Diri Bangsa.

Musik dan institusi kepolisian bertemu dalam satu ruang kreatif lewat lagu Jati Diri Bangsa. Karya ini memperlihatkan bagaimana pesan nasionalisme dapat lahir dari kolaborasi lintas profesi: musisi, pencipta lagu, dan seorang perwira tinggi Polri.

Lagu tersebut dinyanyikan Ipang Lazuardi, digarap bersama musisi Pay Burman, dan lahir dari gagasan Kepala Biro Pembinaan Karier SSDM Polri, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo. Karya ini dipublikasikan melalui kanal YouTube Mata Air Record sejak 27 Mei 2026.

Kolaborasi ini menjadi menarik karena tidak hanya bergerak di wilayah hiburan. Ia mempertemukan dunia musik yang ekspresif dengan kepolisian yang selama ini lebih sering dipahami melalui disiplin, aturan, dan pelayanan publik. Di kota titik itu, Jati Diri Bangsa menjadi upaya menyampaikan pesan kebangsaan melalui bahasa yang lebih cair.

Brigjen Pol Langgeng Purnomo mengambil peran sebagai penulis lirik. Sementara Pay Burman dan para musisi menerjemahkan gagasan itu ke dalam komposisi musik. Ipang kemudian menghadirkan kekuatan vokal rock yang khas, membuat pesan lagu terasa lebih langsung dan berenergi.

“Kerja sama dengan Pay Burman dkk (BIP). Saya hanya membuat liriknya. Waktu-waktu tertentu saya silaturahmi dan diskusi dengan Pay dkk.

Namun fokus untuk membuat karya-karya positif sesuai kompetensi Pay dkk,” ungkap Langgeng, dikutip dari detikNews.

Lagu ini, kata Langgeng, tidak lahir sebagai proyek seremonial. Ia tumbuh dari perjumpaan, percakapan, dan kesamaan kegelisahan. Polisi membawa pesan, musisi memberi tubuh pada pesan itu melalui nada.

Jati Diri Bangsa membawa pesan tentang cinta Tanah Air, persatuan, dan pentingnya menjaga ruh kebangsaan. Tema seperti ini kerap hadir dalam pidato resmi atau upacara kenegaraan, tetapi lewat musik, pesan tersebut bergerak lebih lentur menuju ruang publik.

Suara serak Ipang memberi karakter kuat pada lagu ini. Pay Burman, yang dikenal sebagai salah satu musisi penting dalam lanskap rock Indonesia, menghadirkan sentuhan musikal yang membuat pesan kebangsaan tidak terdengar kaku. Di sisi lain, lirik Langgeng memberi arah gagasan yang jelas.

“Semangatnya cinta Tanah Air. Alhamdulillah sefrekuensi dan kegelisahannya sama. Saya dan Pay dkk saling melengkapi dan mengisi,” imbuh Langgeng.

Salah satu penggalan lirik berbunyi, “Mata air jati diri bangsa, menghidupi Indonesia dan dunia.”

Kalimat ini menjadi inti pesan lagu: identitas bangsa dipandang sebagai sumber hidup yang harus dijaga agar tidak mengering oleh zaman.

Kolaborasi musisi dan polisi dalam lagu ini memperlihatkan bentuk komunikasi kebangsaan yang lebih lunak.

Bukan melalui instruksi, melainkan ajakan. Bukan lewat bahasa komando, melainkan nada yang bisa dinyanyikan dan diingat.

Dalam konteks sosial hari ini, ketika ruang digital sering mempercepat perpecahan, musik menjadi medium yang punya daya tembus berbeda. Ia tidak selalu menjelaskan secara panjang, tetapi dapat menanamkan rasa. Di situlah Jati Diri Bangsa mencoba mengambil tempat.

Lagu ini sekaligus menunjukkan bahwa pesan nasionalisme tidak hanya menjadi urusan negara. Ia dapat dirawat bersama oleh siapa saja: aparat, seniman, pendengar, dan masyarakat luas. Setiap pihak membawa perannya sendiri dalam menjaga Indonesia tetap bernapas sebagai rumah bersama.

Pada akhirnya, Jati Diri Bangsa bukan hanya lagu baru dari Ipang. Ia adalah pertemuan dua dunia: polisi yang menulis kegelisahan kebangsaan, dan musisi yang mengubahnya menjadi suara. Dari pertemuan itu, nasionalisme menemukan bentuknya yang lebih populer, lebih akrab, dan lebih mudah singgah di telinga publik. (Agus)

Tinggalkan Balasan