PT Janu Putra Sejahtera Tbk Perkuat Integrasi Bisnis Unggas, Bidik Pertumbuhan Lewat Program Makan Bergizi Gratis dan Pasar Korporasi

Spread the love


JAKARTA, Nusantarabicara.com -– PT Janu Putra Sejahtera Tbk (BEI: AYAM) terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan peternakan ayam terintegrasi di Indonesia melalui pengembangan bisnis dari hulu hingga hilir. Perseroan optimistis prospek industri perunggasan nasional tetap menjanjikan seiring meningkatnya konsumsi protein hewani, dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta perluasan pasar korporasi dan institusi.


Hal tersebut disampaikan Direktur PT Janu Putra Sejahtera Tbk, Fadhl Muhammad Firdaus, dalam Public Expose 2026 yang digelar di Gedung Cyber, Kuningan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).


Fadhl menjelaskan, kegiatan usaha utama perseroan mencakup pembibitan ayam (grandparent stock), penetasan telur (hatchery), budidaya ayam ras pedaging (broiler), budidaya ayam petelur (layer), hingga pengelolaan Rumah Potong Ayam (RPA). Model bisnis terintegrasi tersebut menjadi fondasi perusahaan dalam menjaga kualitas produk, efisiensi operasional, dan keberlanjutan pasokan protein hewani.


Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, PT Janu Putra Sejahtera Tbk resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten AYAM pada 30 November 2023 dan berstatus sebagai perusahaan terbuka.


Perseroan memiliki jaringan operasional yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, meliputi kantor pusat di Sleman, peternakan breeding di Wonosari dan Purbalingga, fasilitas hatchery di Karangmojo, peternakan layer di Tegalsari, Rumah Potong Ayam di Cebongan, serta peternakan broiler di wilayah Sleman.


Usung Visi Menjadi Integrator Perunggasan Terkemuka


Perseroan menargetkan menjadi perusahaan integrator perunggasan terkemuka di Indonesia yang memberikan kontribusi positif bagi industri peternakan nasional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan menjalankan sejumlah misi, antara lain menyediakan produk unggas berkualitas tinggi, menerapkan praktik usaha yang ramah lingkungan, meningkatkan kesejahteraan peternak, menjalankan program sosial bagi masyarakat, meningkatkan efisiensi proses produksi, serta menjaga pertumbuhan keuntungan perusahaan secara berkelanjutan.


Penjualan 2025 Turun, Aset Justru Meningkat
Sepanjang 2025, penjualan perseroan tercatat sebesar Rp267 miliar, turun sekitar 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp361 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi kondisi industri perunggasan yang masih menghadapi tekanan harga dan lemahnya permintaan pasar.


Meski demikian, manajemen berhasil meningkatkan total aset menjadi sekitar Rp510 miliar, naik sekitar 9 persen dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp467 miliar. Peningkatan aset didorong investasi pada kapasitas operasional dan pengembangan fasilitas produksi.
Di sisi lain, total ekuitas tetap terjaga di kisaran Rp208 miliar, mencerminkan struktur permodalan yang relatif stabil di tengah dinamika industri.


Kuartal I 2026 Masih Tertekan
Memasuki kuartal I 2026, perseroan membukukan penjualan sekitar Rp56 miliar, turun sekitar 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp104 miliar.


Menurut manajemen, kondisi tersebut dipengaruhi fluktuasi harga ayam hidup, melemahnya daya beli masyarakat di sejumlah daerah, serta meningkatnya biaya produksi akibat ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor.


Meski demikian, perusahaan terus memperluas jaringan distribusi ke pasar modern, sektor korporasi, institusi, serta memanfaatkan peluang dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada periode yang sama, total aset meningkat menjadi sekitar Rp520 miliar, sedangkan ekuitas naik menjadi sekitar Rp214 miliar, menunjukkan fundamental perusahaan tetap terjaga.


Prospek Industri Masih Cerah


Manajemen menilai terdapat sejumlah faktor yang akan mendorong pertumbuhan industri perunggasan nasional, di antaranya meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 287 juta jiwa, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi protein hewani, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang diperkirakan membuka permintaan baru terhadap ayam dan telur.


Selain itu, kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan produksi dan distribusi nasional dinilai menjadi faktor pendukung stabilitas industri.


Namun demikian, perseroan juga mengingatkan adanya tantangan berupa fluktuasi harga bahan baku impor seperti bungkil kedelai, persaingan industri yang semakin ketat, serta ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi memengaruhi biaya produksi dan daya beli masyarakat.


Fokus Perkuat Bisnis Terintegrasi


Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Janu Putra Sejahtera Tbk menyiapkan sejumlah strategi, antara lain memperkuat bisnis terintegrasi dari pembibitan hingga rumah potong ayam, meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jaringan distribusi modern, memperkuat pasar korporasi dan institusi, serta mengembangkan kerja sama dengan berbagai mitra strategis.


Perseroan juga memperkenalkan program JMC (Janu Mitra Connect) sebagai platform pengembangan bisnis yang menghubungkan perusahaan dengan berbagai pelanggan strategis, seperti sektor pertambangan, manufaktur, rumah sakit, institusi pendidikan, instansi pemerintah, hingga pasar modern.


Melalui JMC, perseroan tidak hanya menawarkan produk unggas, tetapi juga edukasi mengenai protein hewani, konsultasi produk, pengembangan kemitraan, serta solusi rantai pasok bagi pelanggan.


Manajemen optimistis strategi tersebut akan memperluas pasar komersial, memperkuat kontribusi perusahaan terhadap ketahanan pangan nasional, sekaligus mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. (PS)