JAKARTA, Nusantarabicara.com — Krisis moneter 1999 menjadi titik awal perjalanan PT Supa Surya Niaga. Di tengah tekanan ekonomi yang mengguncang Indonesia, perusahaan yang berbasis di Sidoarjo, Jawa Timur, itu justru membangun bisnis pengolahan dan penyediaan bahan baku rempah serta kacang-kacangan yang kini menembus pasar mancanegara.
Lebih dari dua dekade kemudian, PT Supa Surya Niaga terus memperkuat posisinya sebagai pemasok bahan baku pangan dengan mengedepankan standar keamanan pangan, keberlanjutan, serta praktik bisnis dan pengadaan yang bertanggung jawab.
Perjalanan tersebut kembali ditunjukkan melalui keikutsertaan perusahaan dalam Fi Asia 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta, 16–18 September 2026.
Ajang industri pangan tersebut menjadi momentum PT Supa Surya Niaga memperkenalkan berbagai produk sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pelaku industri dan pasar internasional.
Berbasis di Kompleks Pergudangan Sinar Gadangan, Sidoarjo, perusahaan memasok beragam rempah unggulan dan bumbu masakan untuk kebutuhan industri pangan, termasuk berbagai jenis kacang-kacangan seperti kacang mete. Produk tersebut dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, baik di pasar dalam negeri maupun mancanegara.
Menjaga Standar di Tengah Persaingan Global
Masuknya produk pangan Indonesia ke rantai pasok global tidak hanya bergantung pada ketersediaan komoditas. Aspek keamanan pangan, kualitas, ketertelusuran, keberlanjutan, hingga praktik pengadaan menjadi faktor penting yang menentukan kepercayaan pasar. Karena itu, PT Supa Surya Niaga menyatakan terus menerapkan sistem manajemen keamanan pangan serta mendorong praktik pertanian berkelanjutan dalam rantai pasoknya.
Komitmen tersebut juga tercermin dari keterlibatan perusahaan dalam sejumlah organisasi dan platform yang berkaitan dengan rantai pasok, keberlanjutan, serta praktik bisnis yang bertanggung jawab, antara lain Sedex, Asta, IPC, INC, SSI dan GEF SGP Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengikuti perkembangan standar internasional di industri pangan sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia.
70 Persen Tenaga Kerja Perempuan
Di balik ekspansi bisnis dan aktivitas perdagangan bahan baku pangan, PT Supa Surya Niaga juga menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari perjalanan perusahaan.
Perusahaan menyebut sekitar 70 persen tenaga kerjanya merupakan perempuan.
Komposisi tersebut memperlihatkan besarnya peran perempuan dalam aktivitas operasional perusahaan sekaligus menjadi bagian dari kontribusi PT Supa Surya Niaga dalam membuka kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi perusahaan, keberlanjutan tidak semata-mata berkaitan dengan lingkungan dan produksi, tetapi juga menyangkut bagaimana rantai bisnis memberikan manfaat kepada pekerja dan masyarakat.
Fi Asia 2026 Jadi Pintu Perluasan Pasar
Keikutsertaan PT Supa Surya Niaga dalam Fi Asia 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperluas jejaring bisnis di sektor pangan. Pameran yang berlangsung di JIEXPO Kemayoran tersebut mempertemukan pelaku industri pangan, pemasok bahan baku, calon mitra bisnis, serta jaringan pasar dari berbagai negara.
Bagi PT Supa Surya Niaga, forum tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa produk rempah dan kacang-kacangan Indonesia memiliki peluang untuk terus masuk ke rantai pasok global apabila didukung kualitas, keamanan pangan dan praktik produksi yang berkelanjutan.
Dari sebuah perusahaan yang lahir di tengah krisis ekonomi 1999, PT Supa Surya Niaga kini membawa pengalaman lebih dari dua dekade untuk menghadapi tantangan industri pangan yang semakin terhubung dengan pasar internasional.
Perjalanan itu sekaligus menunjukkan bagaimana komoditas Indonesia—mulai dari rempah hingga kacang-kacangan—dapat memiliki nilai tambah ketika dikelola dengan standar yang mampu menjawab tuntutan pasar global. (Sugeng)