TNI AL Ajukan 100 Nama Fitur Bawah Laut RI agar Diakui Dunia

Nusantara Bicara, Jakarta — TNI AL melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) tengah memperjuangkan pengakuan internasional atas kekayaan geografis dasar laut Indonesia. Saat ini, TNI AL telah mengajukan hampir 100 fitur bawah laut kepada otoritas global untuk mematenkan penamaan dan kedaulatan wilayah tersebut.

Langkah prestisius ini mencuat dalam pertemuan antara Wakil Komandan Pushidrosal Laksda Bambang Irawan yang mewakili Komandan Pushidrosal Laksdya Budi Purwanto, bersama jajaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Senin (20/4). Pengajuan ini bakal disampaikan kepada Sub Committee on Undersea Feature Names (SCUFN) atau sub-komite internasional yang berwenang menetapkan nama objek bawah laut.

Baca Juga: TNI AL Siapkan Asistensi Militer untuk Lindungi Riset Tambang RI di Pasifik

Upaya ini bertujuan agar fitur-fitur seperti gunung, palung, maupun lembah di dasar laut Indonesia terdaftar secara resmi di peta dunia. Nantinya, seluruh data tersebut akan dihimpun dalam sebuah ensiklopedia nasional fitur bawah laut yang mengintegrasikan riset dari BRIN, Badan Informasi Geospasial (BIG), hingga Pushidrosal.

Bambang menegaskan, penguatan dokumentasi ini merupakan bagian dari transformasi teknologi pemetaan maritim Indonesia. Selain pengajuan nama, TNI AL juga sedang menyiapkan tim robotik khusus untuk mendukung survei laut dalam.

“Kami sedang mengajukan hampir 100 fitur bawah laut ke SCUFN demi memperoleh pengesahan resmi. Kami juga menyiapkan tim robotik dan penguatan kapasitas personel agar sistem dokumentasi kita terintegrasi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Bambang, dikutip dari keterangan Dispen Pushidrosal, Kamis (23/4).

Ia menambahkan, inovasi teknologi ini menjadi kunci dalam mendukung agenda strategis lainnya, seperti mitigasi bencana gunung api bawah laut serta perlindungan riset penambangan nasional di Samudra Pasifik.

Selain robotik, Pushidrosal sedang memamerkan hasil riset Satelite Derived Bathymetry atau metode pemetaan kedalaman laut menggunakan data satelit dalam sidang IHO Assembly di Monaco. Teknologi yang dikembangkan bersama Universitas Indonesia ini sedang diperjuangkan agar menjadi salah satu standar akuisisi data dunia.

“Teknologi satelit ini terus kami kembangkan hingga mencapai tingkat ketelitian tinggi. Targetnya, karya anak bangsa ini bisa diakui oleh organisasi hidrografi internasional (IHO) sebagai standar resmi,” pungkas Bambang. (Agus)

Tinggalkan Balasan