JAKARTA, NUSANTARA BICARA — Industri kayu olahan Indonesia dinilai masih memiliki prospek kuat di tengah berkembangnya berbagai material substitusi. Penguatan teknologi produksi melalui penggunaan mesin woodworking dan molding dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan efisiensi, presisi, serta nilai tambah produk kayu nasional.
Hal tersebut disampaikan Azharin, Wakil Ketua I Bidang Organisasi ISWA, saat ditemui Nusantara Bicara dalam pembukaan IFMAC & WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Azharin menjelaskan, woodworking dan molding pada dasarnya masih berada dalam satu ekosistem industri perkayuan. Perbedaannya lebih banyak terletak pada jenis pekerjaan dan proses pengolahan serta mesin yang digunakan.

“Kalau molding ini biasanya mesinnya, sedangkan woodworking itu pekerjaannya. Sebenarnya sama saja,” ujar Azharin.
Menurutnya, ISWA menaungi banyak pelaku usaha di sektor kayu olahan. Jumlah perusahaan yang tergabung disebut mencapai ratusan dan memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor pemerintahan.
“Kalau perusahaan, kita ada ratusan. Kita juga banyak terkait dengan beberapa kementerian, terutama untuk masalah perkayuan, seperti Kementerian Kehutanan, Perindustrian, Perdagangan, dan kementerian lainnya,” katanya.
Kayu Tetap Memiliki Prospek
Azharin menilai penggunaan kayu masih memiliki prospek di Indonesia meskipun saat ini tersedia berbagai material alternatif, termasuk baja ringan dan material konstruksi lainnya.
Menurut dia, kayu tetap diminati karena memiliki karakteristik tersendiri dan digunakan dalam berbagai kebutuhan, khususnya produk bangunan dan interior.
“Kayu ini masih tetap bisa dipakai. Bahan pengganti memang banyak, seperti baja ringan dan lainnya, tetapi kayu masih diminati para pengguna,” ungkapnya.
Ia juga melihat penggunaan kayu dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan isu lingkungan yang semakin mendapat perhatian global.
“Kayu memang perlu. Saya pikir kita kembali menggunakan kayu itu untuk menekan pemanasan global, menuju net zero carbon,” ujarnya.
Mesin Modern Pangkas Ketergantungan Tenaga Manual
Salah satu hal yang menjadi sorotan Azharin dalam IFMAC & WOODMAC 2026 adalah perkembangan teknologi mesin perkayuan yang semakin tinggi.
Berbagai mesin yang dipamerkan menawarkan proses produksi dengan tingkat presisi tinggi dan memungkinkan pelaku usaha mengurangi ketergantungan terhadap proses manual.
“Banyak mesin-mesin yang sudah menggunakan teknologi tinggi. Tidak perlu lagi menggunakan tenaga kerja terlalu banyak dan prosesnya sangat presisi,” jelasnya.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan pengolahan kayu, mulai dari pembuatan pintu, jendela, komponen bangunan, hingga produk berbasis plywood.
“Memang pekerjaannya banyak digunakan untuk bahan bangunan, khususnya membuat pintu, jendela dan macam-macam. Ada juga plywood,” katanya.
Azharin juga menyoroti kehadiran produsen mesin dari China dalam pameran tersebut. Menurutnya, kehadiran berbagai teknologi tersebut memberikan kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk melihat dan mengadopsi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industrinya.
“Kalau berminat dengan teknologi yang lebih maju, bisa menggunakan nilai tambah yang lebih baik,” ujarnya.
ISWA Dorong Pelaku Industri Melek Teknologi
Lebih jauh, Azharin berharap IFMAC & WOODMAC 2026 dapat membuka wawasan pelaku industri perkayuan Indonesia terhadap perkembangan teknologi global.
Menurutnya, pameran bukan hanya menjadi tempat mempertemukan produsen mesin dengan calon pengguna, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memahami arah perkembangan industri perkayuan.
“Kita harapkan pameran ini membukakan wacana bagi para pengunjung. Bagaimana melihat teknologi mesin-mesin yang sudah maju dan bisa digunakan untuk industri perkayuan,” pungkas Azharin.
Dengan semakin berkembangnya teknologi woodworking dan molding, industri kayu olahan Indonesia dihadapkan pada peluang untuk meningkatkan efisiensi produksi, kualitas, presisi, dan nilai tambah agar mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. (P)