APKJ Dorong UMKM Mebel Jepara Naik Kelas, Minta Stakeholder Soroti Masalah Harga Dan Kesesuaian Mesin

Spread the love

JAKARTA Nusantarabicara.com — Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ) mendorong transformasi masif pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mebel di Jepara agar mulai bermigrasi dari sistem produksi tradisional ke berbasis mesin industri. Langkah ini dinilai menjadi kunci utama agar produk furnitur lokal mampu menekan Harga Pokok Produksi (HPP) dan kembali bersaing di pasar global.

​Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum APKJ, Andriyani Susanto, saat ditemui di booth pameran APKJ dalam ajang International Furniture Manufacturing Components (IFMAC) dan Woodmac 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

​Andriyani mengungkapkan bahwa ketergantungan UMKM pada metode produksi manual membuat efisiensi dan HPP sulit bersaing dengan produk manufaktur skala besar.

​”Selama ini UMKM masih terjebak pada proses produksi yang dominan menggunakan tenaga manusia. Akibatnya HPP menjadi tinggi dan kurang efisien. Mau tidak mau, kita dipaksa mengikuti pola industri agar bisa menghasilkan produk yang lebih murah, kompetitif, dan memiliki kualitas yang stabil,” ujar Andriyani.

​Mengusung Program “Woodrive 2026–2027”

​Sebagai bentuk komitmen mendampingi para pelaku usaha, APKJ meluncurkan program edukasi bertajuk Woodrive yang dijadwalkan berjalan sepanjang periode 2026 hingga 2027. Program ini dirancang dengan mendatangi langsung sentra-sentra produksi di Jepara.

  • ​Edukasi Keliling: APKJ akan menyisir lima kecamatan yang menjadi basis UMKM mebel terbanyak di Jepara selama satu tahun penuh.
  • ​Materi Utama: Pengrajin akan dibekali pemahaman seputar kalkulasi HPP yang efisien, standar kontrol kualitas (quality control), hingga pengenalan teknologi modern seperti mesin Computer Numerical Control (CNC).
  • ​Target Utama: Mengembalikan kejayaan industri furnitur Jepara agar kembali menembus pasar internasional (go international) dengan basis produksi modern.

​Miskoneksi Spesifikasi Mesin dan Realitas UMKM

​Meski kesadaran (mindset) para pengrajin untuk beralih ke teknologi sudah mulai terbentuk, Andriyani membeberkan adanya kendala teknis dan finansial yang membatasi keterjangkauan teknologi bagi UMKM.

​Harga mesin industri yang berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta per unit dinilai masih sangat memberatkan. Selain masalah modal, keterbatasan infrastruktur dasar di bengkel (workshop) UMKM kerap menjadi kendala utama.

​”Rata-rata workshop UMKM itu luasannya terbatas dan kapasitas listriknya masih 1 phase. Sementara mesin-mesin industri yang beredar di pasaran mayoritas membutuhkan daya 3 phase. Ada miskoneksi antara penyedia teknologi dan kebutuhan riil UMKM,” tegasnya.

​Ia menambahkan, pabrik mesin saat ini terlalu berfokus pada industri skala besar yang jumlahnya terbatas. Padahal, potensi pasar dari ribuan UMKM furnitur sangat masif jika produsen mau menyesuaikan spesifikasi alat.

​APKJ berharap para pemangku kepentingan (stakeholders) dan produsen mesin dapat menjembatani masalah ini dengan menciptakan mesin berdaya 1 phase bernilai ekonomis serta fitur yang disesuaikan.

​Menjaga Identitas Ukir di Tengah Modernisasi

​Di samping mendorong efisiensi lewat mesin, APKJ memastikan bahwa modernisasi tidak akan menghilangkan identitas ukiran khas Jepara yang bernilai seni tinggi. Adanya teknologi seperti mesin CNC 3 axis hingga 5 axis justru dipandang sebagai alat bantu untuk mempermudah pengerjaan pola ukir.

​”Pasar saat ini memang cenderung menyukai desain minimalis dan simpel. Kita harus realistis mengikuti supply and demand. Namun, aksen dan identitas ukir sebagai sejarah yang melekat di Jepara tetap kita pertahankan. Seni ukir manual tetap memiliki ceruk pasar tersendiri yang bernilai tinggi,” pungkasnya.

​Guna merealisasikan solusi konkret terkait pembiayaan dan kustomisasi teknologi ini, APKJ saat ini tengah aktif menjalin komunikasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) dan para penyedia teknologi mesin manufaktur. (PS)

Tinggalkan Balasan