Nusantara Bicara, Jakarta -– PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BIMA) mencatat peningkatan penjualan sepanjang tahun 2025 sebesar 17 persen menjadi Rp108,2 miliar dibandingkan Rp92,5 miliar pada tahun sebelumnya. Meski demikian, perseroan masih menghadapi tekanan kinerja yang tercermin dari meningkatnya kerugian usaha menjadi Rp12,42 miliar dari Rp7,84 miliar pada 2024.
Dalam Paparan Publik yang digelar Rabu (24/6/2026), manajemen menjelaskan bahwa peningkatan kerugian usaha dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan biaya produksi, serta semakin ketatnya persaingan di industri alas kaki.
Di sisi operasional, volume produksi Perseroan sepanjang 2025 turun 15 persen menjadi 459 ribu pasang sepatu dibandingkan 541 ribu pasang pada tahun sebelumnya. Penurunan produksi dilakukan sebagai bagian dari strategi efisiensi persediaan dan akibat keterbatasan modal kerja yang dihadapi perusahaan.
Sepanjang tahun 2025, Primarindo tidak melakukan produksi maupun penjualan sepatu dan produk traveling goods untuk pasar ekspor. Namun pada 2026, Perseroan mulai kembali membuka pasar ekspor secara bertahap dengan tujuan pengiriman ke Argentina.
Sementara itu, pada Triwulan I 2026, penjualan Perseroan tercatat sebesar Rp14,34 miliar atau turun 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp17,11 miliar. Penurunan terjadi baik pada kanal penjualan online maupun offline.
Meski penjualan menurun, Perseroan berhasil menekan kerugian usaha. Pada Triwulan I 2026, rugi usaha tercatat sebesar Rp4,53 miliar, membaik dibandingkan rugi usaha Rp5,42 miliar pada Triwulan I 2025. Perbaikan tersebut didorong oleh efisiensi beban penjualan yang dilakukan perusahaan.
Selain itu, rugi komprehensif juga mengalami penurunan menjadi Rp5,96 miliar pada Triwulan I 2026 dari Rp7,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang mendukung perbaikan tersebut adalah menurunnya beban selisih kurs menjadi Rp1,8 miliar dibandingkan Rp3,68 miliar pada Triwulan I 2025.
Di tengah upaya pemulihan kinerja, saham BIMA masih berada dalam status suspensi oleh Bursa Efek Indonesia sejak 19 November 2025. Suspensi tersebut terkait status default atas kewajiban pinjaman Perseroan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA).
Manajemen mengungkapkan hingga saat ini kewajiban kepada PT PPA belum dapat diselesaikan. Perseroan berencana memperoleh sumber dana pembayaran melalui penjualan aset, namun hingga kini belum menemukan pembeli yang sesuai.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, Perseroan terus menjalankan berbagai langkah strategis. Upaya tersebut meliputi penjualan sebagian aset tetap, pengelolaan persediaan secara optimal, penyesuaian volume produksi dengan proyeksi penjualan, evaluasi harga produk sesuai kondisi pasar, hingga penguatan promosi melalui berbagai platform media sosial.
Selain itu, Primarindo juga melakukan efisiensi di berbagai lini operasional, menerima pesanan pembuatan sepatu khusus dari sejumlah instansi pemerintah, serta mengembangkan strategi pemasaran melalui penjualan langsung (live selling) di platform media sosial.
Manajemen optimistis berbagai langkah tersebut dapat memperbaiki kinerja perusahaan dan mendukung keberlanjutan usaha pada periode mendatang, termasuk membuka kembali peluang pertumbuhan melalui pasar ekspor yang mulai digarap pada tahun 2026. (PS)