Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) Bali, Nyoman Oka Widarsah saat mengikuti Munas 2 AMBI tahun 2026 di Hotel Grand Sahid, Jakarta (4/7/2026).
Jakarta, Nusantarabicara.com -– Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) Bali, Nyoman Oka Widarsah, optimistis prospek industri mobil bekas nasional masih sangat menjanjikan meski saat ini penjualan mengalami perlambatan, termasuk di Bali.
Hal tersebut disampaikan Nyoman Oka Widarsah usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) AMBI 2026 yang kembali menetapkan Tjung Subianto sebagai Ketua Umum AMBI periode 2026–2029 secara aklamasi di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Oka, terpilihnya kembali Tjung Subianto diharapkan mampu membawa AMBI menjadi organisasi yang semakin kuat serta memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggotanya.

“Kami berharap di bawah kepemimpinan Pak Tjung Subianto, AMBI semakin maju, semakin solid, semakin besar, dan mampu memperkuat kolaborasi dengan perusahaan pembiayaan serta seluruh mitra strategis. Dengan begitu, baik pelaku usaha mobil bekas maupun mitra leasing sama-sama mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Mengenai kondisi pasar di Bali, Oka mengakui penjualan mobil bekas saat ini mengalami penurunan seiring melambatnya sektor pariwisata yang menjadi penggerak utama perekonomian Pulau Dewata.
“Kondisi penjualan mobil bekas di Bali memang sedang menurun. Hal ini juga dipengaruhi sektor pariwisata yang belum sekuat sebelumnya sehingga berdampak terhadap daya beli masyarakat,” katanya.

Meski demikian, ia menilai prospek bisnis mobil bekas tetap lebih menjanjikan dibandingkan mobil baru. Salah satu penyebabnya adalah harga kendaraan bekas yang lebih terjangkau serta nilai jualnya yang relatif lebih stabil.
“Mobil bekas memiliki harga yang lebih menarik. Bahkan setelah digunakan satu tahun, nilai jualnya tidak turun terlalu banyak, kadang kerugiannya kecil bahkan ada yang bisa dijual kembali dengan keuntungan. Berbeda dengan mobil baru yang umumnya langsung mengalami penyusutan nilai setelah dibeli,” jelasnya.

Oka juga menjelaskan bahwa tingginya volume transaksi mobil bekas dipengaruhi oleh karakteristik pasar, di mana satu unit kendaraan dapat diperjualbelikan beberapa kali dalam waktu yang relatif singkat.
“Satu mobil bekas bisa berpindah tangan berkali-kali. Ada konsumen yang membeli, memakai selama beberapa minggu, kemudian menjualnya kembali. Karena itu volume transaksi mobil bekas bisa lebih tinggi dibandingkan mobil baru,” ungkapnya.
Menurut Oka, keberadaan AMBI memberikan banyak manfaat bagi pelaku usaha, terutama dalam memperluas jaringan bisnis dan mempercepat pertukaran informasi antaranggota dari berbagai daerah.
“Melalui AMBI kami bisa saling mengenal dengan anggota dari seluruh Indonesia. Bagi kami di daerah, relasi dengan pelaku usaha di Jakarta sangat penting karena informasi mengenai harga pasar maupun perkembangan industri bisa diperoleh lebih cepat,” tuturnya.
Saat ini, Oka mengelola jaringan usaha Oka Mobil yang memiliki empat cabang showroom di Bali. Ia berharap AMBI terus menjadi wadah yang mampu memperkuat sinergi, meningkatkan profesionalisme pelaku usaha, serta mendorong pertumbuhan industri mobil bekas nasional yang sehat dan berdaya saing. (PS)