Nusantara Bicara, JAKARTA — Ketua Umum Masyarakat Pelumas Indonesia (MASPI), Nurudin, ST menegaskan pentingnya penguatan kompetensi di bidang pelumasan (lubrication) guna meningkatkan keandalan industri nasional. Hal itu disampaikan dalam seminar pada ajang INAPA 2026 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut Nurudin, hampir seluruh rotating equipment di sektor industri, mulai dari turbin, kompresor, pompa, gearbox, sistem hidrolik hingga mesin diesel, sangat bergantung pada sistem pelumasan yang tepat.

“Di banyak literatur, kegagalan yang berhubungan dengan pelumasan menempati persentase terbesar sebagai penyebab kerusakan peralatan industri. Karena itu lubrication sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelumasan bukan sekadar memilih merek oli, tetapi mencakup ketepatan jenis oli, volume, tekanan, waktu penggantian, hingga memastikan oli benar-benar bekerja pada titik yang harus dilumasi.
“Boleh jadi kita merasa sudah mengganti oli, tetapi oli itu tidak menjalankan fungsinya karena tidak sampai ke area yang harus dilumasi,” katanya.
Nurudin menilai ilmu mengenai lubrication masih minim dipelajari secara mendalam di perguruan tinggi, termasuk di jurusan teknik mesin. Padahal, keberlangsungan industri sangat bergantung pada keandalan rotating equipment yang performanya ditentukan oleh kualitas pelumasan.
Karena itu, MASPI aktif memberikan edukasi melalui webinar rutin setiap bulan dengan menghadirkan para praktisi dan ahli lubrication untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan teknis.
Namun demikian, menurutnya edukasi saja belum cukup. Indonesia dinilai perlu memiliki sertifikasi kompetensi pelumasan nasional yang lebih relevan dengan kondisi industri dalam negeri.
Saat ini, sertifikasi lubrication masih didominasi lembaga internasional seperti ICML. Nurudin mengungkapkan tingkat kelulusan peserta Indonesia masih rendah, salah satunya karena ujian menggunakan bahasa Inggris.
“Tidak semua mekanik atau pelaku lubrication di lapangan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, sementara ujiannya masih berbahasa Inggris,” ujarnya.
Untuk itu, MASPI bersama sejumlah pihak tengah menyusun Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKK) bidang pelumasan yang nantinya akan diajukan kepada kementerian terkait, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan dan BNSP.
“Harapannya Indonesia memiliki standar kompetensi sendiri yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi industri nasional,” katanya.
Nurudin menambahkan, MASPI merupakan organisasi terbuka dengan anggota yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari produsen oli, akademisi, peneliti, industri filter, bearing, hingga pengguna pelumas dari sektor tambang, logistik, alat berat, kelautan, dan pembangkit listrik.
Ia optimistis Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama industri pelumas di Asia Tenggara, mengingat besarnya jumlah penduduk dan pertumbuhan industri nasional.
Menurutnya, Indonesia juga telah mampu memproduksi sebagian base oil domestik, khususnya grup 1 dan grup 3, meski beberapa jenis lain serta additive masih bergantung pada impor.
“Harusnya dengan industri yang besar, pelumas yang digunakan juga semakin banyak dan produk-produk itu bisa menjadi buatan Indonesia sendiri,” tuturnya.