JAKARTA, Nusantarabicara.com — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan keamanan siber di Indonesia dinilai menghadapi tantangan serius, bukan semata karena keterbatasan teknologi, tetapi juga minimnya sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar menguasai teknologi tersebut.
Hal itu diungkapkan Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) Ir. Onno W. Purbo M. ENG., PH.D, saat ditemui dalam kegiatan pameran teknologi di Jakarta. Ia menegaskan, Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi AI dan cybersecurity secara mandiri, namun kebutuhan tenaga ahli jauh lebih besar dibandingkan ketersediaannya.
“Kita sampai kehabisan orang. Mahasiswa kita sudah diambil dari semester tiga untuk bekerja, bahkan mereka kemudian pindah ke kelas malam,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tingginya kebutuhan industri terhadap tenaga yang memiliki kemampuan praktis di bidang teknologi, khususnya cybersecurity dan AI.
ITTS sendiri, kata dia, tidak hanya mengajarkan teori, tetapi mendorong mahasiswa untuk melakukan praktik dan mengembangkan teknologi secara langsung.
“Kampus kita bukan kampus teori. Ada teori, tetapi kebetulan rektornya tukang ngoprek, dosennya juga ngoprek, sehingga mahasiswa ikut ngoprek,” katanya.
Gratiskan Buku AI, Sudah Diunduh 4 Juta Kali
Salah satu langkah yang dilakukan ITTS adalah membuka akses pengetahuan teknologi secara gratis kepada masyarakat.
Ia mengungkapkan, ITTS telah menerbitkan dan melepas secara gratis sebanyak 23 buku mengenai AI yang ditujukan untuk siswa SD, SMP, SMA hingga SMK. Buku tersebut dirancang agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi mampu memahami dan mengembangkan teknologi AI sendiri. “Kita bikin 23 buku gratis untuk SD, SMP, SMA, SMK supaya mereka bisa bikin AI sendiri. Bukunya gratis. Sekarang yang download sudah 4 juta,” ungkapnya.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi nasional sehingga masyarakat Indonesia tidak selamanya bergantung pada platform AI asing.
ITTS juga menyediakan program pembelajaran terbuka melalui platform Open Course yang dapat diakses masyarakat secara gratis.
Menurut Rektor ITTS, program tersebut telah menarik sekitar 40 ribu peserta. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan jumlah peserta yang benar-benar mampu menyelesaikan pembelajaran dan memiliki kompetensi yang siap digunakan di dunia kerja.
AI untuk Cybersecurity
Selain pendidikan, ITTS juga mengembangkan berbagai teknologi berbasis AI untuk cybersecurity.
Ia menjelaskan, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memanfaatkan AI untuk melakukan pemetaan dan analisis terhadap informasi yang tersedia di internet.
Teknologi tersebut, menurutnya, dapat membantu proses investigasi digital dengan mengumpulkan berbagai informasi dan mengidentifikasi pola tertentu secara lebih cepat.
“Kalau biasanya investigasi dilakukan dengan klik-klik, sekarang AI yang melakukan investigasinya. Informasi bisa langsung dipetakan, termasuk lokasi kejadian dan berbagai informasi yang berkaitan,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan tersebut harus digunakan secara bertanggung jawab dan tidak boleh disalahgunakan.
Teknologi Ada, SDM Masih Menjadi Masalah
Menurut Rektor ITTS, persoalan utama cybersecurity Indonesia bukan semata-mata ketiadaan teknologi. “Teknologinya ada. Yang masalah bukan di teknologi, tetapi institusinya banyak sekali. Kementerian, lembaga, pemerintah daerah, semuanya harus diperkuat,” ujarnya.
Ia menilai penguatan keamanan digital nasional membutuhkan SDM yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut. Menurutnya, membeli perangkat atau sistem keamanan canggih saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
“Mau mengamankan jangan berpikir hanya membeli alat lalu masalah selesai. Untuk alat itu bisa berjalan harus ada orang pintar yang bisa mengoperasikannya,” tegasnya.
Karena itu, ITTS memilih memperbanyak akses pendidikan dan pelatihan cybersecurity agar semakin banyak masyarakat yang memiliki kemampuan teknis.
Mahasiswa Semester Tiga Sudah Masuk Industri
Tingginya permintaan terhadap tenaga cybersecurity juga dirasakan langsung oleh ITTS. Ia menyebut mahasiswa bahkan mulai direkrut perusahaan ketika baru memasuki semester tiga. Kondisi tersebut membuat kampus harus menyesuaikan pola pembelajaran.
Mahasiswa yang sudah bekerja kemudian mengikuti perkuliahan pada malam hari.
“Semester satu dan dua kita kasih daging semua. Semester tiga anak-anak magang, kerja, dapat gaji, kemudian bisa membayar SPP sendiri,” katanya.
Skema tersebut sekaligus menjadi solusi bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
Ia mengungkapkan, ITTS merupakan kampus yang relatif baru sehingga masih menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk dalam akses bantuan pendidikan.
Namun, menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh membuat mahasiswa yang memiliki potensi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan teknologi.
Dorong Regulasi AI Tidak Matikan Inovasi
Terkait rencana regulasi mengenai AI di Indonesia, Rektor ITTS berharap pemerintah tetap memberikan ruang bagi inovasi.
Ia mengingatkan agar regulasi tidak justru membatasi kreativitas anak muda dan pengembangan teknologi di perguruan tinggi.
“Teman-teman yang membuat undang-undang harus pernah merasakan betapa susahnya membuat teknologi seperti ini. Jangan sampai regulasi justru menghentikan orang-orang kreatif dan inovatif. Yang memang melanggar harus dibereskan, tetapi jangan inovasinya yang dihentikan,” ujarnya.
Menurut dia, regulasi AI harus mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan masyarakat, keamanan, dan kebebasan inovasi.
ITTS Buka Akses Ilmu Cybersecurity Gratis
ITTS juga memilih membuka sebagian pengetahuan dan materi pembelajarannya kepada publik secara cuma-cuma.
Rektor ITTS menyebut tersedia ratusan buku yang berkaitan dengan teknologi, cybersecurity dan bidang lainnya yang dapat diakses masyarakat secara gratis.
Langkah tersebut, kata dia, merupakan bentuk kontribusi kampus untuk memperluas akses pendidikan teknologi sekaligus memperkuat SDM digital Indonesia. “Ilmunya kita lepas gratis. Ambil semua bukunya, tidak perlu bayar. Bayarnya pakai doa,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang mau mempelajari AI, cybersecurity dan teknologi digital secara serius sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi mampu menjadi negara yang memiliki kemampuan untuk menciptakan dan mengembangkan teknologinya sendiri.
(NB)