JAKARTA, NusantaraBicara.com –- Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) mengambil langkah strategis dalam mendorong pengembangan energi terbarukan di Tanah Air melalui peluncuran buku referensi biomassa yang diklaim sebagai buku referensi pertama di Indonesia. Inisiatif tersebut diharapkan menjadi landasan pengetahuan bagi dunia pendidikan, industri, serta generasi muda dalam mengembangkan sektor energi hijau dan menciptakan lapangan kerja baru (green jobs).
Peluncuran buku tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan rapat kerja nasional dan konsolidasi nasional MEBI di arena pameran Heatech, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Sekjen MEBI Dr. Ir. Arief Yunan., M.Si menjelaskan, peluncuran buku ini menjadi tonggak awal atau milestone dalam memperkuat literasi dan pengembangan biomassa di Indonesia. Buku tersebut disiapkan sebagai bahan referensi bagi pendidikan tinggi maupun institusi pendidikan lainnya, khususnya dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang energi hijau.

Menurutnya, buku tersebut akan terus dievaluasi dan diperbarui mengikuti perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta regulasi yang berlaku.
“Ini menjadi titik awal bahwa biomassa sudah dijadikan suatu bahan yang bisa nantinya menjadi referensi pendidikan tinggi atau pendidikan umum lainnya untuk menyiapkan generasi muda kita di bidang energi hijau, khususnya biomassa,” ungkapnya.
Selain peluncuran buku, ketua umum MEBI, Dr. Ir. Milton Pakpahan, MM. CERG juga menggelar panel diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian ESDM, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Semen Indonesia Group, Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, hingga perwakilan Kementerian Perindustrian serta Kementerian Pertanian dan Kehutanan.

Diskusi tersebut membahas potensi biomassa sebagai sumber energi alternatif, kebutuhan bahan baku industri, serta peluang membangun rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga pengguna akhir (end user).
Keterlibatan berbagai sektor tersebut dinilai penting karena pengembangan biomassa tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, pemasok, petani, hingga masyarakat di daerah yang memiliki potensi sumber daya biomassa.
Dalam kesempatan yang sama, MEBI juga melantik Koperasi Energi Biomassa Indonesia sebagai salah satu elemen pendukung pengembangan ekosistem biomassa nasional.
Tidak hanya itu, MEBI juga mendeklarasikan Forum Pemasok Biomassa Indonesia sebagai wadah konsolidasi dan koordinasi antarpemasok di berbagai wilayah.

Ketua Umum MEBI menyampaikan, pembentukan forum tersebut bertujuan menyatukan langkah para pemasok agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui forum ini, para pelaku usaha diharapkan dapat saling mengenal, berbagi informasi, serta memetakan lokasi sumber biomassa yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
“Indonesia begitu luas. Lokasi dari sumber-sumber biomassa itu harus ada suatu sinergi. Masing-masing orang, agensi, industri, maupun pemerintah daerah juga harus mengetahui bahwa ada sumber di daerahnya yang bisa dimanfaatkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan biomassa juga memiliki nilai strategis dalam membangun ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, dan sumber daya lainnya agar memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya dipandang sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mengurangi emisi karbon.
Biomassa Dorong Ekonomi Kerakyatan
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MEBI dalam keterangannya menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa yang melimpah dan dapat dikembangkan menjadi sumber energi nasional.
Menurutnya, salah satu keunggulan biomassa adalah sumber bahan bakunya berasal dari dalam negeri sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap peralatan dan teknologi impor sebagaimana yang masih dibutuhkan dalam pengembangan sejumlah sektor energi terbarukan lainnya.
“Biomassa itu dari kita sendiri. Jadi bagaimana uang kita beredar di kita sendiri, untuk kita dan bersama kita,” ujarnya. Ia juga menilai pengembangan biomassa dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan karena melibatkan petani dan masyarakat desa sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku.
Limbah perkebunan serta hasil samping kehutanan dan hutan tanaman industri dapat dikumpulkan, diolah, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.
Pola tersebut dinilai mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat desa sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal.
Sekjen MEBI juga menjelaskan bahwa buku yang diluncurkan memuat pembahasan mengenai perkembangan regulasi biomassa serta peluang bisnis dalam mendukung transisi energi Indonesia.
Dukung Target Net Zero Emission 2060
Lebih lanjut, MEBI menegaskan komitmennya untuk turut berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi karbon melalui sosialisasi dan pengembangan pemanfaatan biomassa.
Menurut Sekjen MEBI, biomassa yang berasal dari pemanfaatan limbah dan sumber daya terbarukan berpotensi menjadi bagian dari solusi energi rendah karbon sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Forum Pemasok Biomassa Indonesia nantinya diharapkan ikut mengambil peran dalam menyosialisasikan manfaat biomassa kepada para pemasok, pelaku industri, masyarakat, dan pemangku kepentingan di daerah.
Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari kontribusi berbagai elemen masyarakat dalam mendukung target nasional menuju Net Zero Emission pada 2060.
Melalui peluncuran buku referensi, pembentukan koperasi, deklarasi Forum Pemasok Biomassa Indonesia, serta kolaborasi lintas sektor, MEBI berharap pengembangan biomassa dapat semakin terarah dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menjadi dorongan agar potensi biomassa Indonesia tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga kekuatan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendukung transisi energi berkelanjutan. (Padrika)